Status Awas Gunung Agung, 40.000 warga mengungsi
Merdeka.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan status Gunung Agung, Bali dari siaga menjadi awas. Awal mula status tersebut disebabkan erupsi yang terjadi pada hari Minggu (25/11) pukul 17.30 Wita dengan ketinggian 1.500 meter.
Kemudian di hari yang sama terjadi erupsi freatomagmatik yang berlanjut letusan magmatic pada pukul 21.00 Wita. Kepala Humas Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan magma tersebut terus keluar dan mengisi kawah.
"Pada pukul 21 Wita terlihat sinar yang memancar dari dalam kawah dan kemungkinan sinar itu berasal dari lava yang berada di dalam kawah," kata Sutopo di ruang Pusdalops Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (27/11).
Dia melanjutkan, letusan berikutnya terjadi kuning kemerahan. Dalam bahasa Vulkanologi dikenal Glow. Glow merupakan ciri khas erupsi Gunung Agung seperti pada tahun 1963. Kemudian, Kepulan abu yang terus menerus disertai erupsi eksplosif dan juga suara dentuman lemah yang terdengar sampai jarak 12 km dari puncak gunung. Sejak Minggu (25/11) malam hingga saat ini menandakan potensi letusan akan lebih besar.
"Erupsi menerus hingga sekarang disertai dengan terus menerus, artinya magma terus keluar ke dalam kawah, dan kemungkinan terjadi erupsi yang lebih besar dari sekarang," lanjutnya.
Dengan hal tersebut, pada Senin (27/11) pukul 06.00 Wita pagi tadi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) status Gunung Agung menjadi Level 4 yakni Awas dengan radius 8 km di seluruhnya dan penambahan sektoral menjadi 10 km akibat dentuman, tremor dan erupsi Gunung Agung yang terus menerus pada radius tersebut.
"PVMBG berkoordinasi dengan BNPB, akhirnya Kepala BNPB menetapkan Status Awas level 4 artinya level tertinggi dari Gunung Agung," ujarnya.
Sementara, Sutopo menjelaskan, terdapat 22 Desa yang berada di radius 8 dan 10 km yang kemungkinan besar terdampak letusan gunung api yakni Desa Ababi, Pidpid, Nawa Lerti, Datah, Babandem, Jungutan, Buana Giri, Tulamben, Dukuh, Kubu, Baturinggit, BAN, Sukadana, Menanga, Besakih, Pempatan, Selat, Peringaari, Muncan, Dudu Utara, Amertha Buana, dan Sebudi.
Seluruh desa tersebut dibagi menjadi dua yaitu 8 km dan 10 km. Desa yang sangat rawan terletak di KRB 3 atau (Kawasan Rawan Bencana) Gunung Agung. KRB tiga berjarak 8 km dari Gunung Agung dan rawan dari bahaya awan panas, aliran lava, guguran batu, lontaran baju pijar, dan hujan abu lebat. Kemudian KRB dua yakni 10 km rawan terkena awan panas, aliran lava, lahar, lontaran material dan batu pijar.
Desa yang berada di KRB III adalah Desa Pidpid, Nawakerti, Datah, Bebandem, Jungutan, Buana Giri, Tulamben, Dukuh, Baturinggit, Ban, Sukadana, Menanga, Besakih, Pempatan, Duda Utara, Amertha Bhuana, Sebudi dan Buda Keling.
Kemudian Desa yang berada di KRB II Sebudi, Jungutan, Duda timur, Sibetan, Macang, Buda Keling, Bebandem, Ban, Tianyar, Sukadana, Baturinggit, kubu, Dukuh, Tulamben,Peringsari, Muncan, Selat, Ababi, dan Menanga.
Jumlah penduduk di seluruh 22 desa tersebut 90.000 sampai 100.000 jiwa. Sementara saat ini, sekitar 40.000 warga telah mengungsi secara mandiri maupun evakuasi.
"Ada sekitar 22 desa yang harus mengungsi, kemungkinan lebih dari 40.000 masyarakat sudah mengungsi ke beberapa tempat," ucapnya.
(mdk/rhm)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya