Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Stadion Sepak Bola Diharapkan Miliki Tempat Khusus Anak

Stadion Sepak Bola Diharapkan Miliki Tempat Khusus Anak Suasana kericuhan di laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. ©2022 REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengungkapkan tragedi Kanjuruhan telah menelan banyak korban jiwa dari kalangan anak-anak di bawah umur. Karena itu seharusnya penyelenggara even massa, termasuk sepak bola menyediakan tempat khusus bagi anak-anak.

"Peristiwa-peristiwa yang melibatkan jumlah massa besar mohon sarana prasarana mengedepankan yang terbaik bagi anak. Jadi karena sepak bola adalah hiburan keluarga, tentu ada yang mengajak putra putrinya, ada yang SD dan sebagainya. Maka betul-betul ada tempat khusus untuk anak, sehingga manakala terjadi sesuatu yang tidak terduga nomor satu yang paling dulu diselamatkan adalah anak-anak," uratnya di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, Senin (10/10).

Dia mengungkapkan, anak-anak korban tragedi Kanjuruhan mengalami trauma yang masih membekas. Sehingga memang perlu diambil tindakan yang bersifat pendampingan hingga membawa kembali ceria seperti sedia kala.

"Tadi ada salah satu anak kami tanya apakah nanti mau menjadi pemain bola? Secara tiba-tiba jawabannya tidak," ujarnya.

Sebagai orang dewasa, tragedi Kanjuruhan dapat dibayangkan dampaknya bagi anak-anak. Saat itu dalam situasi penuh kepanikan, kondisinya malam hari sampai terinjak-injak.

"Ini tentu harus dipulihkan kembali,. butuh dukungan dari keluarga, keluarga perlu memberikan perhatian, beberapa kami lihat didampingi ibundanya, masing-masing bisa tenang, ini yang paling utama, kondisi psikologisnya harus bisa dipulihkan kembali. Akhirnya mereka bisa sehat kembali dan bangkit kembali," jelas Kak Seto.

Dia menjenguk anak-anak korban tragedi Kanjuruhan yang masih menjalani perawatan di RSSA Malang. Kak Seto menemui beberapa anak yang masih dalam perawatan intensif.

"Kami wawancara tiga anak, kelihatannya sudah mulai tenang kembali, ada beberapa yang masih diinfus, ada juga yang masih dalam selimut, belum boleh banyak bergerak, tapi senyumnya sudah mulai berkembang," terangnya.

Dia bersama LPA Jawa Timur dan LPA Malang sesuai kapasitasnya akan memantau penanganan para korban anak-anak. Semua pihak telah berperan dalam penanganan korban baik secara fisik maupun psikologis.

"Tadi kami lihat unsur psikolog, psikiater yang tentu penanganan untuk memulihkan trauma psikologisnya. Karena ini, ibaratnya suatu luka kalau tidak segera diobati akan menimbulkan suatu dalam jangka panjangnya. Begitu juga kondisi psikologis juga bisa terbawa sampai usia dewasa," katanya.

Anak-anak yang menjadi korban harus dipastikan kondisi kesehatannya, yang terluka harus diobati lukanya. Kaki dan tangannya yang patah harus dioperasi hingga kembali pulih.

"Sikap menghadapinya jangan sampai ada sesuatu yang menyudutkan anak, misalnya ada kata-kata 'ibu kan sudah bilang harusnya nggak datang', jangan sampai merasa ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga, mendapat tekanan. Semua dibesarkan hatinya, " ungkapnya.

Kak Seto bersama tim juga melakukan kunjungan ke rumah beberapa korban anak-anak, termasuk anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Mereka juga kategori korban yang juga harus mendapatkan perhatian.

(mdk/fik)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP