Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sopir BST Minta Dikirimi Foto Cantik Penumpang, Gibran Perintahkan Pecat

Sopir BST Minta Dikirimi Foto Cantik Penumpang, Gibran Perintahkan Pecat Armada Batik Solo Trans (BST). ©2021 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Merdeka.com - Tangkapan layar percakapan sopir bus Batik Solo Trans (BST) dengan salah seorang penumpang wanita beredar di media sosial. Dalam obrolan via WhatsApp (WA) itu, sopir menyapa dengan kata sayang dan minta dikirim foto dengan pose yang cantik.

Permintaan itu kemudian ditolak oleh penumpang. Alasannya, tidak boleh mengirimkan foto pribadi.

Tangkapan layar percakapan WA keduanya kemudian diunggah di twitter. Pemilik akun menceritakan bahwa dirinya telah bertemu sopir BST saat naik dari sekitar apotek depan Solo Paragon Mall.

Saat bertemu, sopir meminta nomor WA, dengan alasan hendak memberi info jadwal BST. Namun ternyata justru kalimat-kalimat aneh yang dikirimkan.

Mendengar kabar tersebut, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka geram dan marah dengan ulah sopir bus angkutan massal itu. Selain memalukan, kasus tersebut juga mencoreng nama baiknya.

"Ini memalukan, saya yang malu," ujar Gibran, Rabu (22/12).

Hukuman Terlalu Ringan

Gibran menyayangkan sanksi yang diberikan pengelola BST hanya skorsing selama tiga hari. Ia menganggap hukuman itu terlalu ringan.

"Seharusnya sopir dipecat, karena kasus itu termasuk pelecehan verbal. Hukumannya terlalu ringan, harusnya pecat saja," tandasnya.

"Tak delok (saya lihat) sanksinya tidak tegas, cuma skorsing tiga hari. Nggak bisa kayak gitu, itu ngawur. Meh tak parani kantore (saya datangi kantornya)," tegasnya.

Gibran menyebut, berdasarkan laporan yang diterima, kasus itu tidak hanya memakan satu korban. Namun sudah ada beberapa. Menurutnya, sanksi yang diberikan kepada pelaku harus lebih tegas.

"Ngopo (kenapa) hanya skorsing tiga hari, langsung pecat saja," tandasnya.

Putra sulung Presiden Jokowi menyebut, kasus seperti ini sudah sangat marak. Ia juga berterima kasih kepada warga yang menjadi korban sudah mau berbicara di media sosial (medsos).

"Terima kasih untuk korban. Nggak gampang loh speak up seperti itu. Silakan kalau ada korban lain yang merasakan hal serupa, laporkan saja dan kita kalau ada laporan tindakannya juga cepat," katanya.

Pengelola BST Tidak Profesional

Gibran menyebut pengelola BST tidak profesional. Kasus yang dialami oleh operator BST itu bukan yang pertama tapi sudah beberapa kali terjadi.

"Itu nek ra (kalau tidak) viral mereka tidak bertindak. Harus ada evaluasi dan ini pastinya sangat merugikan banyak pihak, termasuk BST sendiri," katanya lagi.

Gibran menyadari, tidak semua sopir BST berperilaku seperti itu. Sebelumnya ada sopir yang viral saat membantu lansia.

"Tapi sing elek yo akeh (yang jelek juga banyak), tidak responsif pada complain warga," ucapnya.

Gibran menilai pengelola kurang selektif dalam rekrutmen sopir. Menurutnya, diperlukan bimbingan lebih lanjut untuk para sopir. Cara-cara kerja di tempat lama, dikatakannya, tidak bisa diterapkan di tempat yang baru.

(mdk/yan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP