Soal Transformasi Birokrasi, Menpan-RB Ambil Contoh Sopir Taksi
Merdeka.com - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Tjahjo Kumolo mengatakan pihaknya terus berupaya melakukan transformasi birokrasi Indonesia. Dia mengakui birokrasi dan penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia harus bertransformasi seiring dengan perkembangan zaman.
"Mungkin bapak ibu ingat, masa resesi kita di tahun 2007 itu kan birokrasi di swasta kan juga berubah dengan cepat," kata dia, dalam Raker bersama Komisi II, di kompleks parlemen, Selasa (23/6).
Salah satu aspek yang bakal membantu transformasi dan peningkatan kinerja ASN, sebut Tjahjo, yakni pemanfaatan teknologi. Terkait hal tersebut, dia mencontohkan pemanfaatan teknologi oleh sebuah perusahaan transportasi.
Pemanfaatan teknologi dapat meningkatkan kinerja karyawan perusahaan tersebut, yakni sopir. Para sopir, dibantu kerjanya lewat pemanfaatan teknologi. Teknologi juga membuat para sopir tidak bisa melakukan tindakan yang merugikan konsumen.
"Kami kemarin mengundang CEO taksi Blue Bird. Sopir kan enggak ahli itu. Paling-paling SMA-lah. Tapi dengan teknologi yang diterapkan oleh Blue Bird, beres kok. Barang hilang, barang ketinggalan di Blue Bird dalam tempo 1 jam pasti kembali. Enggak bisa bohong," ujarnya.
Hal ini seharusnya bisa diterapkan di level ASN. Dengan demikian level pelayanan ASN juga meningkat. "Di tingkat sopir saja bisa. Masa di ASN tidak bisa. Tapi ini perlu waktu," tandas dia.
Saat ini, terdapat 4,3 juta ASN di Indonesia, dengan beragam latar belakang pendidikan. Juga kemampuan dalam menyerap dan memanfaatkan teknologi. Hal ini tentu menjadi tantangan dalam menghadapi isu-isu yang muncul dalam penyelenggaraan pemerintah, baik dari sisi demografi, ekonomi, dan pemanfaatan teknologi.
Juga terkait dengan upaya menciptakan penyelenggaraan pemerintahan responsif, adaptif, dan membuat kebijakan yang evidence base. "Mohon maaf sekali ASN kita dari 4,3 juta itu 1,6 juta pegawai administrasi."
"Yang 4,3 juta juga belum tentu bisa pegang komputer dengan baik," ungkap dia.
Pihaknya, lanjut Tjahjo sudah menyiapkan upaya transformasi baik dari sisi strategi, struktur, proses, SDM, dan teknologi. Dengan demikian birokrasi nantinya mampu mengoptimalkan sumber daya manusia yang untuk mampu menangani kebutuhan masyarakat.
"Jadi struktur yang bagaimana membangun optimalisasi sumber daya internal dalam membagi peran," ujar dia.
Hanya memang, sekali lagi dia menegaskan bahwa upaya transformasi di tubuh birokrasi butuh waktu. "Yang 1,6 juta ini kan enggak akan mungkin kita berhentikan. Ini kan tunggu pensiun. Kecuali dia mau pensiun dipercepat atau mau pensiun dini. Kalau yang tidak ini kan tidak mungkin. Maka Kepala BKN mari ditata dengan cara yang bermartabat. Saya kira ini perlu sebuah kehati-hatian," tutupnya.
(mdk/rhm)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya