Soal penyadapan, Wakapolri sebut IPW tukang ngarang
Merdeka.com - Wakapolri Komjen Pol Oegroseno membantah rilis dari Indonesian Police Watch (IPW) yang menyebutkan bahwa peralatan IT di Polri sebagai pintu masuk penyadapan dari luar negeri. Oegro pun menantang IPW untuk membeberkan data-data yang mereka miliki.
Menurutnya IPW hanya asal ceplas-ceplos mengkritisi Polri. "Jangan hanya ngarang itu IPW, datang ke kita. Kita terbuka kok, jangan hanya mengarang dia. Saya tidak membantah kalau ada kasih datanya ke kita," kata Oegro usai menghadiri usai menghadiri acara Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi (KNPK) di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/).
Oegro pun menganggap bahwa IPW selalu banyak omong di media, namun tak pernah membeberkan data lengkapnya. Menurut dia, jika memang peralatan IT Polri ada kerusakan sudah semestinya selalu diperbaiki kembali oleh teknisi. Perbaikan tersebut sekaligus mengecek keamanan IT agar tak mudah disadap oleh pihak manapun.
"Jangan banyak bicara keluar (media) tapi datanya tidak ada, kita terbuka kok. Sekarang gini, begitu pengadaan IT, begitu rusak yang memperbaiki itu teknisi kan? Nanti kan begitu rusak itu diperbaiki teknisi," ujar jenderal polisi bintang tiga ini.
Sebelumnya, Ketua Presidium IPW, Neta S Pane mengatakan bahwa hampir seluruh peralatan yang digunakan oleh Cyber Crime Polri semuanya berasal dari negara asing.
"Kita menduga disadapnya pejabat-pejabat pemerintah (berasal) dari cyber crime bantuan Australia untuk kepolisian. Jadi yang paling banyak menerima bantuan peralatan IT, peralatan cyber dan alat sadap itu kepolisian," kata Neta kepada wartawan, Selasa (3/12/).
"Kebanyakan cyber crime ini dari Australia. Ada lima titik dan itu alat sadap paling canggih. Alat sadap cyber crime Polri itu ada di lima titik, diantaranya di Mabes Polri, Polda Metro Jaya, di Bali kemudian ada di Sumatera Utara dan NTB," ujarnya lagi. (mdk/dan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya