SO 1 Maret (10): Monjali, jejak & saksi bisu perjuangan
Merdeka.com - Untuk mengenang peristiwa sejarah perjuangan bangsa, pada tanggal 29 Juni 1985, Monumen Yogya Kembali atau yang biasa disebut warga sekitar sebagai Monjali dibangun. Peletakan batu pertama saksi bisu Serangan Umum 1 Maret ini, dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX setelah melakukan upacara tradisional penanaman kepala kerbau.
Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989 bangunan ini selesai dibangun dan secara resmi dibuka oleh Soeharto, mantan Presiden Indonesia di era orde baru dengan secara simbolis melakukan penandatanganan prasasti.
Bangunan bersejarah yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman ini berbentuk gunungan. Sebagai simbol kesuburan yang bermakna upaya melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah.
'Gunungan berarti kesejahteraan dan kemakmuran untuk rakyat. Gunungan adalah simbol persembahan sang raja kepada rakyat yang harus diberikan secara ikhlas dengan penuh kerelaan dan pengorbanan," jelas Gunadi (42) salah seorang petugas yang biasa berjaga di Monjali saat ditemui merdeka.com Kamis (1/3). Monjali terletak di Jalan Raya Ring Road Utara, Kota Yogyakarta.
Posisi bangunan yang berupa kuncup atau gunungan itu pun dengan mengikuti adat istiadat Yogyakarta terletak pada titik atau sumbu imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Yogyakarta di titik nol, Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak yang merupakan simbol pusat kegiatan Keraton dan Pantai Laut Selatan di Wilayah Yogyakarta yang dikenal dengan Pantai Parangtritis.
“Poros Makro Kosmos atau sering disebut sebagai “Sumbu Besar Kehidupan” umat manusia yang menjadikan manunggaling kawulo lan gusti,” ungkap Gunadi.
Di lantai tiga , di dalam bangunan gunungan yang dibangun di atas tanah seluas 5,6 hektare ini, bisa secara langsung dilihat titik imajiner terletak tepat pada tempat berdirinya tiang bendera.
"Nama Monumen Yogya Kembali merupakan simbol berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia serta sebagai “tetenger” sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta,” tutur Gunadi.
Saksi sejarah Serangan Umum 1 Maret yang terjadi selama 6 jam di Yogyakarta itu, menurut Gunadi membuktikan bahwa Monjali dibangun tidak hanya dalam bentuk fisik dan berisi saksi bisu sejarah Serangan Umum 1 Maret. Namun, juga mempunyai filosofi dan makna serta simbol serta hubungan antara keratin, pemerintahan Yogyakarta saat ini serta Pemerintahan Indonesia. (mdk/war)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya