Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sisir DPRD Jateng, warga Kudus protes eksploitasi air Gunung Muria

Sisir DPRD Jateng, warga Kudus protes eksploitasi air Gunung Muria Warga Kudus protes eksploitasi air di Gunung Muria. ©2016 merdeka.com/parwito

Merdeka.com - Puluhan warga Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Peduli Sumber Mata Air Pegunungan Muria Anti Eksploitasi Komersial, melakukan unjuk rasa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah (Jateng), Rabu (23/3), di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Demonstrasi yang pada awalnya damai, berujung pada aksi penyisiran ke ruangan dewan. Itu lantaran para peserta demo tidak yakin dengan kabar tidak adanya anggota dewan di ruangan.

Para demonstran memaksa masuk ke dalam ruang dewan, setelah sebelumnya petugas Humas DPRD Jateng mengatakan seluruh anggota dewan sedang kunjungan kerja di luar kota. Mereka akhirnya diperbolehkan masuk dengan syarat hanya tujuh orang saja.

Usai masuk, mereka tidak menemukan satu orang pun anggota DPRD, terutama Komisi D yang menangani masalah air. Sesuai jadwal, seluruh anggota parlemen memang sedang melaksanakan kunjungan kerja di Surabaya. Mereka lantas menyasar ruang anggota lain dan hasilnya pun nihil.

Salah seorang tokoh petani, warga Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kudus, Sutikno, kecewa lantaran tidak bisa bertemu dengan anggota dewan. Dia heran karena dari seratus anggota dewan, tidak ada satupun dari mereka ada di ruangan.

"Karena kami merasa sangat kecewa. Jauh-jauh dari wilayah Muria datang ke DPRD Jawa Tengah, ingin ketemu (anggota dewan). Sebelumnya kan sudah ada pemberitahuan, kenapa hari ini seratus anggota dewan tidak ada. Saya selaku masyarakat kecil kecewa mas," ujar Sutikno kepada merdeka.com, Rabu (23/3).

warga kudus protes eksploitasi air di gunung muriaWarga Kudus protes eksploitasi air di Gunung Muria ©2016 merdeka.com/parwito

Sutikno menyatakan, sumber mata air di sekitar Pegunungan Muria telah disedot oleh pengusaha secara ilegal. Imbasnya, warga sekitar kesulitan mendapatkan air bersih buat kebutuhan sehari-hari dan irigasi pertanian.

"Saat ini para warga di Kecamatan Dawe sering berebut sumber air tersebut. Tak bisa terbantahkan, bahwa ketika musim kemarau kita bisa merasakan secara transparan dan mata telanjang, kekeringan dan kekurangan air bersih. Yen rendeng ora biso ndodok, yen ketigo ora bisa cewok (Ketika musim hujan tidak bisa jongkok, musim hujan tidak bisa membersihkan diri)," ujar Sutikno.

Lebih lanjut, Sutikno meminta tiga tuntutan ke Pemprov dan DPRD Jateng yakni, menolak semua bentuk pengajuan izin atas pemanfaatan air dengan tujuan niaga, menghentikan proses pengambilan air dengan tangki berkapasitas 6.000 liter, dan melakukan tindakan konservasi perlindungan mata air di Pegunungan Muria Kudus.

(mdk/ary)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP