Sisi lain mahabarata lewat monolog Studiklub Teater Bandung
Merdeka.com - Tabuhan cepat rebana mengiringi Rinrin Candraresmi ke atas panggung. Mengenakan stelan tari serba merah, aktris Studiklub Teater Bandung (STB) tersebut memerankan Monolog Kesumat Gandari, sosok ibu dalam epik Mahabarata yang memiliki 100 anak Kurawa.
Pentas terkait ulang tahun STB yang ke-57 tersebut digelar di hadapan pengunjung yang memenuhi Toko You, Jalan Hasanuddin, Bandung, Jumat (30/10) malam.
Dewi Gandari versi naskah yang ditulis Gunawan Maryanto adalah sosok perempuan yang penuh dendam. Hal ini berbeda dengan Dewi Gandari versi serial Mahabarata di mana ia digambarkan sebagai sosok ibu penyabar dan lembut.
Lewat kekuatan seni peran Rinrin yang sudah 30 tahun bergabung di STB, Dewi Gandari menjelma jadi perempuan garang dan penuh murka. Gandari marah dan menderita karena harus hidup dengan menutup mata demi suaminya yang buta, Destarata.
"Destarata, biarkan aku mengenal kegelapanmu. Cinta kita tak butuh cahaya. Kegelapanku adalah kegelapanmu," kata Rinrin dengan suara bergetar, seraya mulai menutup kedua matanya dengan kain warna merah darah.
Dewi Gandari marah kepada Pandu Dewanata dan anak-anaknya, para Pandawa, kepada Batara Krisna dan kepada para dewa. Ia iri pada Pandu yang menjadi raja, menyisihkan suaminya yang tak bisa jadi raja karena kebutaannya. Padahal Pandu adalah adik Destarata, semestinya Destaratalah yang lebih berhak atas tahta Hastinapura.
Ia mendambakan anak yang bisa merebut kekuasaan. Ia ingin menyiapkan anak-anaknya untuk menyaingi Pandawa lima. Tapi sayang, dewata tak juga memberikan keturunan meski perutnya terus membesar dan membesar.
"Jika ayahnya gagal menjadi raja apakah anaknya harus demikian? Abiyasa di mana kamu? Kau bilang aku akan punya 100 anak. Perutku terus membesar tak jadi apa-apa, hanya daging yang tumbuh dan dendamku semakin penuh," katanya.
Ia kemudian mengiris-ngiris segumpal daging yang tumbuh di dalam perutnya menjadi 100 irisan untuk ditanam dalam 100 pot. "Aku tanam supaya tumbuh jadi anaku, anak-anak kegelapan," katanya.
Ketika Kurawa tumbuh, Duryodana, Dursasana, Suyudana hingga anaknya yang ke-100, ia sesumbar akan menghancurkan Pandu dan Pandawa. "Aku punya 100 jari yang akan menunjukmu sampai darah menggenangi Kurusetra," katanya.
Namun perang Bratayuda antara Kurawa versus Pandawa membuat nestapa Gandari makin memuncak. Para Kurawa hancur di Padang Kurusetra. Kekalahan ini membuat Gandari menyumpahi Krisna, wakil dewa di mayapada tapi justru berpihak pada Pandawa.
Di tengah jasad 100 Kurawa, akhirnya Gandari membuka tutup matanya. Ia harus menjalani hidup yang serba ironis, mengawali menutup mata dengan kesedihan dan dendam, lalu membuka matanya hanya untuk melihat anak-anaknya tewas.
Seni monolog yang dipamerkan Rinrin membuat pengunjung Toko You memberikan aplaus panjang. Rinrin berhasil menampilkan monolog yang tidak monoton. Ia memvisualisasi peristiwa maupun gejolak batin Gandari dengan kata-kata yang penuh penghayatan dan gerakan tubuhnya.
Pementasan monolog Rinrin hanya salah satu dari tiga lakon monolog yang ditampilkan STB. Selain Rinrin, aktor dan aktris senior STB lainnya juga tampil memukau, yakni Sugiyati SA menampilkan Tutur Kisah Cinta Anjani dan Tjetje Raksa yang menampilkan Bayang Kumbakarna oleh Tjetje Raksa.
(mdk/mtf)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya