Sidak Samsat Magelang, Ganjar temukan praktik pungli saat cek fisik
Merdeka.com - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memergoki praktik pungutan liar (pungli) di Kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang, Jawa Tengah. Pungli tersebut terungkap saat politikus PDIP ini mendapat keluhan warga yang mengurus pajak kendaraan bermotor.
Setelah menerima laporan itu, Ganjar segera menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke Kantor Samsat Kota Magelang, di mana gedungnya masih proses pembangunan. Pungutan itu dilakukan aparat saat melakukan cek fisik kendaraan.
Sugiharto, warga Magelang Tengah, secara mengaku dimintai uang sebesar Rp 50 ribu oleh seorang polisi saat mengurus pelat nomor dan cek fisik kendaraan roda duanya. Pengakuan itu disampaikannya ketika ditanya langsung oleh Ganjar.
Baca berita Ganjar Pranowo di Liputan6.com
"Ngurus nopo (urus apa) pak? Dimintai uang enggak?" tanya Ganjar sambil menunduk ke arah kakek yang memakai kaos garis-garis putih coklat dan berkupluk putih ini, Rabu (4/10).
"Ngurus pajak Pak Gub. Tadi waktu cek fisik dimintai uang Rp 50 ribu sama petugas cek," jawabnya.
Mendengar pengakuan itu, mata Ganjar mendelik. Dia mengajak lelaki tersebut menuju ke loket dan meminta agar uang yang diberikan kepada Brigadir Dani, petugas loket cek fisik, untuk dikembalikan.
"Wah kok bayar! Siapa yang suruh bayar. Ayo sini pak, minta kembali lagi uangnya," tegas Ganjar sambil menuntun Sugiharto.
Didatangi Ganjar, Brigadir Dani wajahnya pucat pasi dan kaku. Dia nampak salah tingkah Meski demikian, tidak ada kata maaf dari mulutnya.
"Tadi salah ngomong dan salah denger pak," kilah Dani sembari mengembalikan uang milik Sugiharto.
setelah mendapatkan uangnya kembali, Sigiharto mengungkapkan kerap dimintai uang setiap kali mengurus perpanjangan pajak kendaraan roda dua miliknya. Uang yang dibayarkan sebesar Rp 50 ribu, tanpa disertai kuitansi.
"Tadi saya dimintai uang Rp 50 ribu. Enggak tahu kenapa langsung diminta uang begitu saja. Katanya untuk administrasi formulir, padahal setahu saya gratis," keluh Sugiharto.
"Temen-teman saya juga semua ditarik. Saya terpaksa membayar karena katanya memang begitu alurnya," lanjut kakek berambut putih itu.
Saat dikonfirmasi wartawan, Ganjar mengaku kecewa dengan maraknya praktik pungli di beberapa Samsat.
"Oh ya! Sebenarnya kekecewaan saya sudah lama. Wong ini kejadiannya bukan hanya sekarang kok. Sudah dari dulu terjadi kok. Jadi naik turun, naik turun ada, enggak ada," tegas politisi PDI Perjuangan ini.
Meski demikian, Ganjar memuji tindakan petugas Samsat Wonogiri. Mereka tidak memungut pungli dan mendeklarasikan untuk menolak praktik pungli.
"Kemarin sempat Kapolres Wonogiri itu menarik. Dia malah waktu saya kunjungi mendeklarasikan diri dengan pelayanan online, bebas korupsi, bebas pungli dan dia sampaikan. Maka saya mengapresiasi. Nah tinggal kita lihat, mudah-mudahan kawan-kawan yang lain mendukung itu. Sehingga samsat jadi lebih baik, saya carikan solusi lah," ungkap mantan anggota DPR RI dua periode ini.
Praktik pungli kesalahan tidak hanya ada pada petugas, bahkan bisa dilakukan oleh masyarakat yang ingin proses pengurusan pajaknya dipercepat atau masyarakat sebagai wajib pajak tidak mau mengurus sendiri melalui calo.
"Maka tulisanya di depan semua urus sendiri lebih cepat. Nah ternyata urus sendiri masih ada yang belum bisa bersepakat. Ada yang sudah bersih mau tidak menggunakan itu dan tidak mau. Kalau yang mau bersih ya tidak mau itu. Tapi kalau tidak mau bersih ya mencari-cari. Itu kan tidak enak melayani masyarakat seperti itu," terangnya.
Ganjar menambahkan, meski praktik pungli ini tidak sebanding nilainya namun. Yang terpenting bagi dirinya adalah mentalitas petugas dan masyarakat yang melakukan dan memunculkan pungli harus dibenahi.
"Sebenarnya duitnya nggak gede tapi kalau akumulasi tiap hari kan ya gede," pungkasnya.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya