Serunya belanja kebutuhan sehari-hari di 'Toko Indonesia' Makkah
Merdeka.com - Sebanyak 168.000 jemaah haji Indonesia tersebar di hotel-hotel di sepanjang kota Makkah. Mereka menempati hotel-hotel bintang tiga hingga bintang empat dengan jarak ke Masjidil Haram bervariasi.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari tak jarang para jemaah haji Indonesia masak sendiri di hotel. Mereka secara berkelompok iuran untuk membeli peralatan memasak, hingga bahan-bahan makanan untuk dimasak.
Lalu ke mana mereka membeli kebutuhan sehari-hari agar menu Indonesia tetap bisa mereka makan? Ternyata tidak susah menemukan toko-toko Indonesia.
Hampir di semua hotel yang ditempati jemaah haji Indonesia, di lantai dasarnya terpajang satu atau dua toko yang bertuliskan 'Toko Indonesia'. Dari namanya, barang-barang yang dijual pun sebagian besar adalah yang menjadi kebutuhan jemaah haji Indonesia.
Misalnya, untuk sayur-sayuran, mereka menjual terong, labu, oyong, ketimun, wortel, bahkan bayam dan kangkung pun mereka menjual. Untuk harga, memang lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia.
Untuk satu ikat kangkung dan bayam, dijual dengan harga 2 Riyal atau Rp 7.000. Sedangkan terong per kilo dijual 5 Riyal. Kentang satu kilo dijual 15 Riyal.
Selain sayur-sayuran, aneka makanan khas Indonesia juga mereka jual, mislanya aneka sambal dan mi instan buatan Indofood, sambal trasi kemasan, teh kotak, beras, hingga krupuk ala Indonesia juga banyak dijual.
Namanya juga orang Indonesia, tak afdhol kalau tidak menawar. Pantauan merdeka.com, Kamis (15/9) kemarin, terjadi tawar menawar antara ibu-ibu dengan si penjual yang orang asli India. Meski agak marah-marah, akhirnya si orang India mau menurunkan sedikit barang dagangannya dari harga semula.
Lucunya, ada ibu-ibu tua yang nekat ngobrol bahasa Jawa halus dengan si penjual yang orang India. Obrolan berlangsung lama lantaran si orang India tak paham apa yang dimaksud si ibu tersebut.
"Niki yotro kulo wau gangsal ewu, tumbas bayem kaleh riyal, wangsulipun tigang riyal. Dereng njenengan wangsulne (Ini uang saya tadi lima Riyal, buat beli bayam dua Riyall kembalinya tiga Riyal) kata ibu tadi meminta uang kembaliannya. Si penjual awalnya tidak paham, namun karena dengan bumbu-bumbu bahasa isyarat, akhirnya dia pamah. Tak bermaksud tidak mengembalikan uang kembalian, karena memang pembelinya banyak hingga lupa memberi uang kembalian.
Salah satu pembeli lainnya, ibu Mariyam asal Maluku, mengaku senang ada toko Indonesia di Makkah. Sehingga dia bisa membeli kebutuhan sehari-hari dengan mudah. "Ini saya beli kerupuk," kata Ibu Mariyam sambil menunjukkan barang yang dia beli.
Namun ada juga yang bingung menyebutkan barang beliannya. Seperti salah satu jemaah haji yang hendak beli tepung terigu. Tapi dia nggak bisa menyebutnya baik dalam bahasa Arab maupun Inggris. "Duh, gimana ya mau beli tepung terigu," kata ibu-ibu tersebut dengan nada bingung.
Toko Indonesia ini bukan benar-benar toko milik orang Indonesia. Karena meskipun menjual bahan-bahan serta keperluan sehari-hari untuk orang Indonesia, namun yang punya adalah orang Arab, dengan para pekerja rata-rata orang India. Di hotel Nasaman Alkhair di distrik Mahbats Jin, Makkah, setidaknya ada dua toko Indonesia di lantai dasar hotel tersebut. Ada kurang lebih 5 hotel yang ditempati jemaah haji di kawasan tersebut, hingga setiap saat toko Indonesia di sana ramai oleh pembeli asal Indonesia.
Tak cuma di daerah Mahbats Jin, hampir di semua daerah yang dihuni oleh para jemaah haji Indonesia pasti ada toko-toko Indonesia. Seperti di depan kantor Daker Makkah PPIH Arab Saudi. Ada tiga toko Indonesia di sana, dan semua laris manis oleh pembeli-pembeli dari Indonesia.
"Murah-murah, bagus-bagus," kata si penjual menjajakan dagangannya.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya