Sering serang Hamka, Pramoedya minta maaf melalui anak gadisnya
Merdeka.com - Di masa pemerintahan Orde Lama, paham komunisme berkembang pesat dan mendapat tempat istimewa di pemerintahan Presiden Soekarno. Salah satu cara mengembangkan ideologi komunis adalah dengan menerapkan Marxisme, Leninisme, dan Maoisme kepada seniman-seniman yang berhaluan kiri tersebut.
Tidak jarang, jika ada seniman dianggap berseberangan, melalui organisasi yang bergerak di bidang seni dan budaya, dalam hal ini Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) akan melakukan berbagai serangan. Salah satu sastrawan yang merasakan betul serangan Lekra tersebut adalah Buya Hamka.
Melalui surat kabar harian ibu kota, Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur yang praberafiliasi dengan komunisme, menuduh novel Hamka yang berjudul 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck' sebagai sebuah hasil plagiat. Tuduhan sadis tersebut dimuat di halaman pertama surat kabar Harian Rakyat di awal 1963.
Sementara itu, di Harian Bintang Timur, dalam lembaran Lekra, rubrik yang merupakan asuhan Pramoedya Ananta Toer, koran tersebut memuat dan mengulas bagaimana Hamka mencuri karangan karya Alvonso care, seorang pujangga Prancis. Selama berbulan-bulan, kedua koran komunis ini menyerang Hamka dengan tulisan-tulisan berbau fitnah.
Dalam pengantar buku 'Ayah', penyair Taufiq Ismail menuliskan, Hamka sudah memaafkan semua yang terlibat dalam penghancuran nama baiknya, termasuk Pramoedya. Termasuk orang yang pernah memenjarakan dirinya atas tuduhan subversif merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno.
Meski tidak mengajukan secara eksplisit kepada Hamka, Pramoedya yang meminta anak sulung perempuannya, Astuti dan calon suaminya yang keturunan Tionghoa Daniel Setiawan untuk belajar agama sebagai sebuah permintaan maaf. Hal ini merupakan syarat dari Pram.
Dalam sebuah wawancara dengan majalah Horison pada 2006, kepada Dr. Hoedaifah Koeddah, dokter yang pernah mengobati Pramoedya, sastrawan yang telah menghasilkan puluhan novel ini tidak ingin anaknya menikah dengan pria yang tidak seagama dengan putrinya.
"Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda."
Saat Hoedaifah menanyakan apa alasan Pramoedya mengirim anak dan calon suaminya belajar agama kepada Buya Hamka, Pram mengatakan, dalam belajar tauhid, Hamka dianggap sebagai orang yang paling tepat.
"Pertama-tama karena saya tidak mendidik anak saya. Justru ibunya yang mendidik dia menjadi seorang muslimah yang baik. Kedua, karena saya harus menghormati ibunya dan keluarga ibunya, keluarga besar Muhammad Husni Thamrin. Masalah perbedaan pandangan politik dengan Hamka tetap. Tapi dalam hal ceramah agama di TVRI, Buya Hamka lah di Indonesia yang paling mantap membahas tauhid. Belajar Islam ya belajar tauhid."
(mdk/mtf)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya