Seragam militer Arie Setya terkenal hingga Eropa

Reporter : Mohamad Taufik | Sabtu, 2 Maret 2013 08:01




Seragam militer Arie Setya terkenal hingga Eropa
Entrepreneur-Arie Setya Yudha. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Siapa yang menyangka seragam militer buatan Indonesia ternyata menarik minat tentara-tentara dari negara-negara di benua Eropa hingga Amerika. Terlebih pembuatnya cuma seorang mahasiswa. Tapi seperti itulah kenyataanya.

Bermula dari usaha kecil-kecilan menjual kacamata air softgun lewat internet, kini Arie Setya Yudha mampu melebarkan sayap bisnisnya dengan menjual seragam militer melalui dunia maya. Pelanggannya beragam mulai dari lokal hingga mancanegara mulai dari Italia, Swedia, Irlandia, Canada, Brasil, Uni Emirat Arab, hingga negeri Sakura, Jepang.

Sebagai mahasiswa perantauan dari Pekan Baru, Kalimantan, Arie, demikian dia akrab disapa, merasa keteteran memenuhi segala kebutuhan hidup semasa kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Meski biaya kuliah tidak pernah telat, tapi dia kerap menunggak biaya membayar kosan. Uang kiriman orang tua sebesar Rp 2 juta sebulan belum cukup memenuhi biaya sewa kosan, makan dan jajan.

24 November 2009 mungkin menjadi hari bersejarah bagi Arie. Berbekal modal uang kiriman orang tua, dia mulai bisnis kacamata untuk permainan air softgun. "Kacamata saya jual di kaskus," kata Arie.

Benar saja, usaha jual kacamata itu lumayan menguntungkan. Meski keuntungan bulanan tidak rutin, tapi rata-rata pada bulan-bulan awal usahanya itu, dia meraup untung sebesar Rp 2,4 juta, atau rata Rp 72 juta setahun. Untuk ukuran bisnis kacamata kecil-kecilan yang dipasarkan lewat internet, bisnis itu sudah lumayan besar, kata dia.

Setelah merasa cukup sukses dengan bisnis penjualan kacamata, dia belajar mendesain sendiri seragam militer. Mula-mula seragam didesain khusus untuk permainan Air softgun pula. Lama kelamaan, pesanan justru dari datang para anggota militer.

Strategi pemasaran seragam militer itu juga melalui jejaring sosial. Satu set seragam militer dibanderol dengan harga Rp 280.000. Perlahan tapi pasti, usaha penjualan perangkat perang militer terus tumbuh.

Setahun kemudian, pangsa pasarnya pun makin luas. Pesanan mulai berdatangan dari luar negeri. Begitu juga dengan pesanan dari tentara yang tidak cuma anggota militer dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Untuk memenuhi kualitas seragam militer buatannya, lima persen dari bahan bakunya diimpor, semisal emblem dan jenis kain. "Tapi tempat produksinya tetap di Yogya," ujarnya.

Pada 2010, omzet usahanya masih dalam kisaran Rp 72 juta. Namun pada 2011, omzet usahanya melonjak hingga Rp 280 juta per tahun. Untuk strategi pemasaran, Arie mengaku memanfaatkan situs jual beli online luar negeri. Dia juga aktif dalam aneka forum-forum internasional.

Selain pesanan dari orang-orang yang gemar permainan air softgun dan tentara, pemesan produk-produk militer buatan Arie juga datang dari para penghobi balap sepeda motor dan mobil (rider), gang motor, hingga para petualang. Mereka memesan melalui kaskus dan forum-forum internasional itu.

Namun demikian, hingga kini Arie masih konsisten berbisnis on line. Dia belum memiliki rencana membuka toko sendiri yang khusus menjual seragam-seragam tersebut. Tahun ini dia malah berencana membuat situs khusus penjualan seragam-seragam militer buatanya itu.

"Saya masih nyaman, dan masih fokus di bisnis online saja. Belum ada rencana buka toko. Tapi kalau rumah produksi sudah ada di Yogyakarta," ujar urusan Ilmu Komunikasi UGM. Selain berbisnis, bungsu dari empat bersaudara itu juga tengah merampungkan masa belajarnya di UGM tahun ini.

Jiwa bisnis lelaki kelahiran 31 Maret 1990 ini mungkin mengikuti jejak ayahnya Shofyan yang merupakan pebisnis di dunia advertising. Dia berencana terus mengembangkan usahanya dengan modal hasil usaha. Untuk bekerja, selama ini dia hanya memanfaatkan jaringan internet di dalam kosan. Sebab itu, dia bercita-cita mengembangkan usahanya itu ke bisnis tersebut.

Baca juga:
Usia 18 tahun sudah jadi bos bisnis perlengkapan olah raga
Sepatu buatan anak muda Bandung sampai ke Afrika Selatan
Nadiem, pelanggan ojek yang sukses kembangkan bisnis Go-Jek
Jualan gorengan, mahasiswa ini raup untung Rp 120 juta per bulan
Waktunya anak muda berlabel pengusaha

[noe]


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

LATEST UPDATE
  • Warga Pekanbaru geger ada bendera ISIS berkibar di musala
  • Peringati hari jadi, Polwan di Karanganyar bagikan 100 helm
  • Tekan ekspor ilegal, pemerintah bangun 14 pelabuhan batu bara
  • Ahok tak mau cari cawagub DKI yang bodoh agar tak pusing
  • 100 Anggota DPRD Jabar 2014-2019 resmi dilantik
  • Tak diangkat pegawai tetap, tenaga outsourcing Bank Sumut demo
  • Nyalon ketum Golkar, Agung siapkan mobil dan kantor pemenangan
  • Kapolda Metro Jaya Irjen Dwi dipromosikan jadi Irwasum Polri
  • Politikus PDIP jabat ketua sementara DPRD Jabar 2014-2019
  • Rekonstruksi Gaza butuh waktu 20 tahun
  • SHOW MORE