Seniman Korea Utara berjuang lawan kejahatan HAM lewat seni rupa
Merdeka.com - Seorang bocah lelaki bertubuh kurus tampak sibuk memutar alat pemanas tungku untuk memasak api, sementara di sampingnya, bocah lelaki lainnya tampak sabar menunggu nasi yang tengah ditanak masak. Suasana tersebut merupakan ilustrasi yang dibuat oleh Chunhyok Kang (29), seorang seniman asal Korea Utara yang sekarang menetap di Korea Selatan.
Ilustrasi dua bocah kurus tersebut merupakan satu dari lima karya Kang yang dipamerkan dalam Pekan HAM Korea Utara yang diselenggarakan di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang, Jakarta Selatan. Inspirasi karya-karya Kang banyak didapat dari pengalamannya selama hidup di Korea Utara.
Dibantu seorang penerjemah, Kang menceritakan bagaimana pahitnya kehidupan di negara komunis tersebut. Kang menuturkan, banyaknya warga desa yang meninggal karena kelaparan, membuat orangtuanya memilih kabur dari Korea Utara.
Pria kelahiran 1986 itu menuturkan, kecintaannya terhadap dunia seni, khususnya seni rupa berawal sejak Kang kecil masih tinggal di Korea Utara. Menggambar menjadi pelarian saat keluarganya dilanda kelaparan, karena tidak ada bahan makanan yang dapat disantap.
"Saya menjadi pelukis sejak saya di Korea Utara. Saya tidak bisa bermain karena lapar. Saya hanya duduk di kamar, apa yang bisa saya lakukan hanya melukis di dalam kamar," ujar Kang.

Memilih kabur dari Korea Utara
Beratnya kehidupan di Korea Utara, serta pelanggaran terhadap kemanusiaan yang kerap terjadi membuat keluarga Kang memutuskan kabur dari negara yang sekarang dipimpin Kim Jong-Un tersebut. Dengan melewati perbatasan yang dijaga ketat tentara, Kang bersama ayah dan ibunya berhasil masuk ke China pada 1998.
"Kami memerlukan perjalanan panjang 12 kali memutar, dan selama perjalanan itu fisik dan hati sudah tercabik-cabi," kenang Kang.
Selama empat tahun tinggal di China, Kang dan keluarganya harus terus main kucing-kucingan dengan pemerintah China. Jika ketahuan, ia dan keluarga akan dideportasi.
"Sejak menyusup dari Korea Utara ke China, selama emapt tahun, saya dan ayah ibu saya selalu berpindah-pindah tempat tinggal. Kalau ketahuan oleh pemerintah China, kami akan dideportasi ke Korea Utara," tuturnya.

Pada 2005, Kang sekeluarga berhasil masuk ke Korea Selatan. Di negeri K-Pop tersebut, Kang meneruskan mimpinya untuk menjadi seorang seniman dengan menempuh pendidikan di sekolah seni.
Melalui karyanya, Kang ingin menggambarkan suasana memprihatinkan yang dialaminya di Korea Utara. Ia ingin dunia luar melihat bagaimana kondisi Korea Utara sebenarnya.
"Melalui seni, saya ingin dunia tahu bagaimana pahitnya hidup di Korea Utara," ujarnya.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya