Semangat Mbah Kaib Berangkat Haji di Usia 100 Tahun
Merdeka.com - Usia Kaib Ibrohim pada 5 Februari 2023 lalu genap seratus tahun. Meski sudah seabad, usia tidak menghalangi niat dan semangatnya menunaikan ibadah haji.
Mbah Kaib, demikian biasa dipanggil, seolah tidak sabar segera menunaikan rukun Islam kelima itu. Ia kerap menanyakan kepastian waktu keberangkatan, apalagi setelah beberapa kali tertunda.
"Jare nek wis manasikkan iku wis arep berangkat. Mboh berangkat kapan. Nek rong minggu maneh, berarti Kamis Kliwon," kata Kaib dalam bahasa Jawa saat ditemui di rumahnya.
(Katanya kalau sudah manasik, tandanya sudah akan berangkat. Tapi tidak tahu kapan, kalau kurang sekitar dua minggu berarti berangkatnya Kamis Kliwon)
"Coro gak ada Corona sudah berangkat. Batal ping telu," tambah Kaib.
(Seandainya tidak ada Corona sudah berangkat. Batal berangkat tiga kali)
Kaib tinggal bersama anak bungsunya dan sang menantu, Asiyeh dan Narimo di Dusun Sumberduren Kidul RT 29 RW 09 Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang.
Keseharian hidupnya sebagai petani dengan menanam singkong dan kayu sengon. Saat tubuhnya masih kuat, dia juga merawat beberapa ekor sapi.
Kendati usianya sudah lanjut, Kaib masih rutin pergi ke sawah dan bercocok tanam. Bahkan jarak sawahnya ditempuh dari rumah dengan berjalan kaki. Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di lahan yang digarapnya selama ini.
Aktivitas Kaib pun lebih sering ditempuh dengan berjalan kaki dengan kondisi jalanan lereng dan bebatuan. Sesekali menantunya mengantar atau menjemput dari sawah, terutama setiap Kamis sore. Karena harus tahlil dan Jumatan pada esok harinya.
Terkadang Kaib juga tidur di sawah. Biasanya saat berangkat sudah pamitan pada anaknya kalau tidak pulang. Karena memang di sawah juga sudah membuat gubuk yang dilengkapi panel tenaga surya.
Keluarga sebenarnya sudah meminta Kaib untuk beraktivitas di rumah, tetapi tidak pernah mau. Begitu bangun tidur, Kaib rutin langsung mandi pagi, salat subuh dan berangkat ke sawah.
"Kalau gak nyambut gawe nang awak gak enak, loro kabeh. Jane gak oleh nang tegal," kata Kain.
(Kalau tidak kerja di badan tidak enak, sakit semua. Sebenarnya tidak boleh ke sawah).
Kaib sendiri hidup menduda sajak istrinya meninggal dunia pada 1985. Saat itu anak bungsunya yang sekaligus anak ke-6 masih baru masuk Sekolah Dasar (SD).
"Saking kepingine haji, ora pengin rabi maneh. Penting munggah kaji," akunya.
Kaib juga pernah merantau dan tinggal di Banjarmasin selama sekitar 10 Tahun. Tetapi penghasilan yang didapatkan hanya cukup untuk makan. Dia kemudian memilih bertani dan berternak sapi dan sedikit demi sedikit sisanya ditabung untuk menunaikan ibadah haji.
Kaib hidup sejak zaman perang kemerdekaan dan masih kerap bercerita kenangan massa Hindia Belanda itu kepada anak-anaknya. Zaman Penjajahan Jepang pun masih dalam ingatannya dengan jelas.
"Umure, munggah tekan satus. Ngliwati 8 orang Presiden. Enteke Jepang aku nang Bululawang," tegasnya.
Kaib bersyukur dikaruniai umur panjang dan berkesempatan menunaikan ibadah haji tahun ini. Dia mengaku pernah dalam kondisi sakit parah selama 18 hari dan hanya bisa minum air putih. Tetapi Allah berkehendak hingga dirinya memiliki umur panjang.
Dia mengaku dalam kondisi sehat wal afiat dan siap mengikuti prosesi di Tanah Suci. Pola makannya juga wajar dan tidak punya pantangan apapun.
"Gak tarak opo-opo, apa yang enak ya dimakan. Mandi setiap bangun tidur. Sing mendemi (memabukkan) gak arep," akunya.
Kaib juga beruntung, anak ketiganya, Sarmadi juga mendapatkan panggilan menjalankan ibadah haji. Sehingga menjadi tempatnya bertanya dan belajar selama proses dan haji nanti.
"Jare anak kulo, pokok tak dampingi, sampeyan tinggal berangkat. Iso gak iso bareng aku. Engkok nek gak apal, tak tuntun doanya pak," katanya menirukan.
"Lek mlaku yo alon-alon. Apal-apalan, moro lali maneh," katanya tersenyum.
Sementara Asiyeh mengungkapkan, ayahnya secara fisik kondisinya sehat dibandingkan kebanyakan orang di usia yang sudah seabad. Namun sedikit persoalan urusan pendengaran yang sudah mulai berkurang.
"Cuma pendengarannya yang berkurang," tegasnya.
Urusan kebersihan pribadi, kata Asiyeh masih diselesaikan secara mandiri. Bahkan sebelum terdengar adzan subuh, ayahnya sudah selesai mandi.
Sehingga Asiyeh tidak begitu khawatir untuk urusan kesehatan tubuhnya, apalagi dengan keberadaan kakaknya yang akan mendampingi dan membimbing.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya