Semangat kerja kakek Sanim, jualan pisang dan tidur di musala
Merdeka.com - Sanim (76) terlihat masih semangat bekerja saat menjajakan dagangannya di Jembatan Halte Busway Cawang Otista, Jakarta Timur. Sanim tak mau menganggur meski usianya sudah tak muda lagi.
Kakek 5 anak ini mengaku sudah memiliki 11 cucu dan 3 cicit. Meski sudah di larang untuk berdagang, ia tidak ingin menghabiskan masa tuanya di rumah. "Ngapain di rumah bosan enggak bisa saya mah diem gitu," kata Sanim kepada merdeka.com, Kamis (26/2).
Meninggalkan istri dan anak di Bogor, Sanim memilih berjualan pisang di jembatan Busway Otista. Berbagai jenis pisang ia jual, mulai dari pisang tanduk, dan pisang raja.
Setiap harinya, Sanim tidur di musala Polsek Jatinegara. Sepekan sekali pulang untuk menemui istri dan mengirim beberapa uang. "Kalau tidur ya numpang di musala polsek. Enggak apa-apa sama polisi mah, karena saya salat juga, engga numpang tidur," ujarnya.
Pagi hari, dia berjalan dari Polsek Jatinegara ke Pasar Tebet untuk menjual pisangnya. Siang harinya ia berdagang di jembatan Busway Otista.
Dia mengaku berdagang sejak tahun 1961 di Jakarta. Awal berdagang ia menjual berbagai macam buah di daerah Matraman, namun karena sudah tua ia menjual pisang saja.
"Dulu zaman muda saya mah kuat bawa 2 kwintal, sekarang mah ya paling 30 kg saja" ceritanya sambilnya merapikan pisangnya.
Harga satu sisir pisang dia jual dengan harga Rp 15 ribu. Dalam sehari hari, ia mengaku bisa mendapatkan Rp 50 ribu. Uang ini dijadikan modal untuk mengambil pisang di
Pasar Induk.
"Biasa panjer Rp 100 ribu, entar kalau abis saya bayar terus ambil lagi pisangnya" katanya.
Kakek tamatan sekolah rakyat ini mengaku tidak ingin santai di rumah. "Anak sekarang mah taunya di rumah saja pacaran kalah sama saya yang tamatan sekolah rakyat masih semangat cari uang" ceritanya sambil tertawa.
(mdk/has)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya