Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Seksi & syur lebih menjual ketimbang esensi film

Seksi & syur lebih menjual ketimbang esensi film suzana . merdeka.com/ilustrasi merdeka.com

Merdeka.com - Fenomena berjamurnya beberapa film bergenre horor di dalam negeri sudah merupakan hal yang tidak asing lagi belakangan ini. Dengan menyuguhkan beberapa adegan "syur" membuat rasa penasaran khalayak untuk pergi ke bioskop dan menyaksikan aksi para pemeran film dalam layar lebar.

Namun, bagi beberapa kalangan perkembangan dunia perfilman Indonesia yang seperti ini justru sangat disayangkan.

"Film horor Indonesia sekarang sadly. Lebih banyak bertemakan horor esek-esek dan terlalu menjual hantu urban legend Indonesia dengan judul yang dilebih-lebihkan, seperti pemakaian pocong, kuntilanak sudah sangat umum dan terkesan memaksa," kata Titis Sapto Raharjo, produser film pendek TAKSI, saat berbincang santai dengan merdeka.com, Minggu (29/4).

Film Taksi merupakan pemenang kompetisi FISFIC (Fantastic Indonesian Short Film Competition). FISFIC sendiri adalah suatu kompetisi film pendek khusus genre Fantasy (Horror, Thriller, Sci-Fi, Fantasy).

Titis menambahkan, saat ini sangat jarang ditemukan film bergenre horor yang benar-benar menimbulkan efek ketakutakan pada khalayak sesudah menontonnya. Alasannya, film horor yang dijual saat ini lebih sering menampilkan sisi vulgar ketimbang ensensi film yang berkualitas.

"Sangat jarang ditemukan film horor dengan jalan cerita yang bagus tanpa embel esek-esek. Film horor zaman dulu memang lebih baik karena menimbulkan efek ketakukan yang membekas seperti Bayi Ajaib, Pengabdi Setan dan film-film Suzanna," beber Titis.

Akan tetapi, lanjut Titis, tidak ada yang bisa disalahkan terkait stigma yang terbentuk pada khalayak terkait fenomena film horor tersebut. Karena film horor yang demikian justru lebih laku di pasaran. Melihat antusiasme pasar itulah, para produser pun berbondong-bondong memproduksi film bertema serupa.

"Tidak ada yang bisa disalahkan karena toh film esek-esek itu laku di luar daerah dan produser semakin getol untuk membuat film serupa. Tapi harus filmaker muda dan berani yang melawan pakem itu. Saya yakin kalau jumlahnya banyak, penonton juga akan teredukasi sendiri dan melihat mana film yang berkualitas mana yang hanya mengandalkan esek-esek," tegas Titis.

Terkait artis yang rela tampil seksi di film-film horor, Titis mengatakan bahwa itu tidak seratus persen kemauan mereka. Sebab, itulah yang jadi bahan jualan setiap rumah produksi.

"Jualan dari PH-PH film yang mengandalkan seksualitas bukan cerita yang memang disitu, satu-satunya yang bisa melawan adalah film dengan cerita yang bagus sehingga masyarakat akhirnya mau datang menonton tanpa adanya adegan buka-bukaan itu. Pure cerita saja," tutur Titis.

Fenomena ini jelas memprihatinkan jika tak diberi redam. Meski Titis cukup yakin bahwa peminat film-film seperti itu segera hilang dengan sendirinya.

"Film horor yang baik adalah film yang bisa mengrab audiens dari segi cerita, bagaimana penonton ketika datang ke bioskop bisa pulang dengan ketakutan," tutup pemimpin redaksi dari Flickmagazine.net ini. (mdk/war)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP