Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejarawan ragukan Soekarno beri 57 ribu ton emas ke AS

Sejarawan ragukan Soekarno beri 57 ribu ton emas ke AS Soekarno. ©2012 Merdeka.com/dok

Merdeka.com - Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam curiga The Green Hilton Memorial Agreement atau harta amanah nihil adanya antara Indonesia dengan Amerika Serikat. Beberapa argumen dia sampaikan soal ketidakyakinan Soekarno memberikan emas kepada John F Kennedy , Presiden Amerika Serikat saat itu.

Pertama, tidak ada dokumen resmi yang dikeluarkan AS yang menyebut soal perjanjian perbankan antara Amerika dan Indonesia. "Jika pun ada perjanjian lain ada pada dokumen AS tapi tidak menyebut soal ini," jelas Asvi di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (7/4).

Kedua, soal adanya cap dan logo di dalam perjanjian tersebut. Dalam perjanjian soal pinjaman emas itu terdapat cap burung garuda Indonesia. "Cap dan burung garuda itu biasanya dipakai oleh kabinet dan kementerian. Presiden menggunakan simbol padi dan kapas dan di tengahnya ada bintang," sambung dia.

Selain itu dia juga meragukan tanda tangan Soekarno . Oleh karena itu dia berharap agar Safari ANS selaku penulis mau menyerahkan dokumen tersebut untuk dianalisis tanda tangan Soekarno oleh Badan Arsip Nasional.

"Arsip bisa diserahkan sehingga bisa tahu ini foto kopi atau bukan. Arsip nasional bisa melakukan pemeriksaan terhadap tanda tangan itu lewat pembesaran," tegas dia.

Menurut analisa Asvi, sekalipun benar Kennedy dan Soekarno bertemu pada 14 November 1963. Mereka tidak akan membicarakan persoalan harta amanah tersebut.

"Misalnya yang dibicarakan saat itu persoalan Irian Barat. Bung Karno yang diplomasi yang zig-zag memutuskan Indonesia agar pembebasan Irian Barat lebih lancar. Menurut saya tentang itu. Atau pembicaraan pesawat Alan Pope yang ditembak jatuh di Indonesia lalu ditukar dengan persenjataan," tutup dia.

The Green Hilton Memorial Agreement adalah perjanjian antara Amerika diwakili John F Kennedy dan Indonesia yang diwakili Soekarno dan perwakilan dari Swiss William Vouker. Dalam perjanjian tersebut Amerika setuju untuk mengakui bahwa kekayaan Indonesia ada berbentuk emas jumlahnya 57 ribu metrik ton emas.

Pada tahun 1963, sistem keuangan Amerika masih menggunakan 'Gold Standard'. Artinya untuk setiap dolar yang dicetak, maka harus ada emas yang dicadangkan. Dengan kata lain, jika memiliki tambahan cadangan emas sebanyak 57.000 ton, maka Amerika bisa mencetak uang dolar sebesar nilai emas tersebut. Oleh karena itu Kennedy meminjam emas milik Indonesia.

Fenomena ini diteliti oleh Safari ANS selama kurang lebih 10 tahun. Dengan mengandalkan sistem banking internasional, Safari ANS  mencoba membuktikan harta amanah Soekarno .

(mdk/ded)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP