Sederet kejahatan bermodal atribut Turn Back Crime
Merdeka.com - Sejak melumpuhkan aksi teroris di Thamrin, Jakarta awal 2016, polisi menjadi sorotan publik. Bukan karena keberhasilannya melumpuhkan para teroris, masyarakat justru 'latah' mengenakan kaos polisi bertuliskan Turn Back Crime (TBC).
Fenomena kaos Turn Back Crime ini mengingatkan kita saat tahun 2000 awal. Di mana saat itu, baju bertuliskan FBI, DEA, dan CEA banyak digunakan warga.
Sosiolog Musni Umar mengatakan, budaya latah ikut-ikutan memakai kaos Turn Back Crime bagi masyarakat sipil dampaknya sangat besar, karena dikhawatirkan akan membahayakan nyawa si pemakai kaos biru tersebut. Dia mengkhawatirkan, pemakai kaos TBC bisa menjadi sasaran para penjahat, preman, karena disangka anggota polisi, padahal masyarakat biasa.
Tidak hanya membahayakan pemakainya, ternyata kaos yang berasal dari New York ini juga digunakan pelaku kejahatan dalam menjalankan aksinya. Salah satunya seperti yang dilakukan pria yang tinggal di Kecamatan Setu, Jakarta Selatan, yang dengan mengenakan jaket TBC, ia meminta uang setoran kepada pekerja pemasang kabel serat optik.
Aksi tersebut terekam dalam video berdurasi 2 menit 32 detik yang diunggah tegar sonni hadi melalui situs berbagi video Youtube, Selasa (17/5). Semula, pelaku menelepon seseorang yang diduga atasan korban. Pelaku meminta sejumlah uang.
Perekam berusaha meredakan ketegangan dengan memberikan uang yang dimilikinya, namun ditolak mentah-mentah dan menuduhnya telah menghina organisasi massa di belakangnya. Semula, dia mengaku anggota ormas Pemuda Pancasila kemudian Forkabi.
"Maaf bang, saya bukan organisasi kecil ya. Gue ini anggota Forkabi ini Kecamatan Setu. Ini KTA gua," kata salah seorang pria yang mengaku bernama Bang Belek berjaket Turn Back Crime.
Pakai kaos Turn Back Crime, polisi gadungan perkosa WTS di Kalibata. (mdk/amn)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya