Satinah, hari-hari menanti hukuman mati di Arab Saudi

    Reporter : Anwar Khumaini | Kamis, 29 November 2012 05:33

    Satinah, hari-hari menanti hukuman mati di Arab Saudi
    pelatihan TKI. ©2012 Merdeka.com

    Merdeka.com - Nasib tragis dialami Satinah, seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Semarang, Jawa Tengah akan menerima hukuman pancung atau penggal kepala di Arab Saudi. Satinah terancam hukuman mati itu karena nekat membunuh majikannya.

    Perbuatan itu dilakukan oleh Satinah karena sering dianiaya dan diperlakukan tak senonoh oleh sang majikan dan keluarganya. Kini, pihak keluarga Satinah pun hanya bisa pasrah kepada pemerintah Indonesia untuk bisa berusaha membatalkan hukuman pancung yang akan dilakukan kepada Satinah yang rencanya akan dilaksanakan pada 14 Desember 2012 mendatang.

    Tindakan nekat membunuh Nura Al Garib, majikan perempuannya ini dilakukan Satinah Binti Jumadi pada tahun 2007 silam. Atas perbuatannya tersebut TKW berusia 40 tahun asal Dusun Mruten, Kabupaten Semarang, Jateng ini akhirnya dijatuhi hukuman pancung oleh Pemerintah Arab Saudi.

    Kabar hukuman pancung yang akan diterima Satinah ini mengejutkan pihak keluarga yang ada di kampung halamannya.

    Namun hukuman pancung terhadap Satinah ini bisa saja urung dilaksanakan jika pemerintah Indonesia membayar diyat sebesar Rp 20 miliar.

    Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Michael Tene mengatakan, pihaknya telah berusaha membebaskan wanita asal Ungaran, Kabupaten Semarang. Hasilnya, pihak berwenang di Arab Saudi akan membebaskan Satinah jika membayarkan uang diyat kepada ahli waris korban.

    "Kasus Satinah sebenarnya kasus yang sudah lama ditekuni oleh Kemenlu. Yang bersangkutan pada awalnya dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Saudi, dia terbukti melakukan pembunuhan terhadap majikan," kata Tene kepada merdeka.com, Rabu (28/11).

    Menurutnya, batas pembayaran uang diyat tersebut adalah 14 Desember mendatang. Karenanya, pihaknya saat ini masih terus berupaya mencari jalan keluar agar pembayaran uang diyat itu dapat dipenuhi.

    "Terutama pendekatan terhadap ahli waris korban mengenai uang diyatnya," katanya.

    Dia enggan berkomentar soal kemungkinan Satinah akan dieksekusi pada 14 Desember nanti jika uang diyat belum bisa dibayarkan. "Yang jelas saat ini pemerintah tengah melakukan berbagai upaya untuk membebaskan yang bersangkutan," katanya.

    Menurut pengakuan Satinah kepada keluarga, dirinya terpaksa membunuh majikannya karena tak terima dituduh mencuri uang sang majikan senilai 38 ribu riyal. Tak hanya itu, kesabaran Satinah pun sudah habis karena sering dianiaya dan diperlakukan tak senonoh oleh sang majikan.

    Hampir enam tahun berlalu, usaha pemerintah Indonesia untuk bisa menyelamatkan Satinah seakan jalan di tempat. Padahal Pemerintah Arab Saudi telah membuka pintu untuk bisa membatalkan hukuman pancung dengan cara membayar diyat sebesar 7 juta riyal atau senilai Rp 20 miliar.

    Jika sampai 14 Desember 2012 diyat atau pengganti darah tersebut tak terbayar, maka Satinah akan langsung dieksekusi dengan cara dipenggal kepalanya.

    [tyo]

    Komentar Anda


    Suka artikel ini ?
    Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman


    JANGAN LEWATKAN BERITA
    Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

    Let's be smart, read the news in a new way.
    Tutup
    Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
    Kirim ke

    Free Content

    • URL Blog

    • Contoh : merdeka.wordpress.com

    • Email

    • Password


    saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya





    BE SMART, READ MORE
    Today #mTAG
    LATEST UPDATE
  • Pria ini lupa namanya 30 tahun, dikira sudah mati oleh keluarga
  • Jadwal rilis dan penjualan iPhone 4 inci bocor?
  • Ini kronologis kasus suap yang libatkan pejabat MA
  • Jokowi diminta copot Menteri Yuddy tak becus urusi tenaga honorer K2
  • REI dukung upaya pemerintah tekan suku bunga kredit perbankan
  • KPK resmi tetapkan pejabat MA tersangka kasus suap penanganan kasasi
  • Pengamat sebut aturan izin penyadapan bikin target KPK lari duluan
  • Pelaku pencemaran nama baik & penghinaan diminta dihukum perdata
  • Pengemudi GO-JEK ditembak orang tak dikenal di Kemang
  • Pria Belanda ditemukan tewas tak pakai celana di rumahnya di Tangsel
  • SHOW MORE