Sastrawan: Kritik pemerintah kalau enggak dihina, dibunuh
Merdeka.com - Sastrawan Indonesia, Radhar Panca Dahana turut mendukung adanya kreativitas seniman dan musisi Indonesia saat melihat nasionalisme mulai pudar di negeri ini. Kompilasi musik reggae Indonesia menciptakan karya dalam bentuk lagu seperti 'Akulah Sejarah' merupakan upaya seniman dan musisi untuk membangun kembali budaya sekaligus mengingat sejarah negeri ini.
Radhar sebagai pakar sastrawan menilai, ketika anak bangsa mengkritik pemerintah di negeri ini melalui tulisan, maka penulis itu akan di asingkan bahkan diburu para jenderal. "Kita menulis malah dikejar para Jenderal," kata Radhar di Cafe Joint GOR Bulungan Jakarta Selatan, Senin (24/8).
Tidak hanya itu, kata dia, kalau seseorang mengkritik para pejabat, maka dia akan dilecehkan oleh pemerintah. "Alhamdulillah dilecehkan oleh pemerintah. Kalau enggak dilecehkan, dihina. Kalau enggak dihina, dibunuh. Itu lah mereka yang punya banyak uang," ujar dia.
Seringkali, para musisi dan seniman berusaha meleraikan kekacauan di negeri ini. Namun, semua itu tidak ditanggapi dengan baik. Dengan susah, kata dia, pecinta bangsa dan budaya Indonesia memperjuangkan ruh (seni dan budaya) sebuah bangsa agar tetap kokoh.
"Gitulah, ini sangat mengharukan. Memodali diri sendiri," pungkasnya.
Diketahui, musisi dan seniman membuat petisi penolakan adanya pengajuan anggaran dana kasur anggota DPR RI senilai Rp 12 Miliar sekaligus mengeluarkan album lagu Akulah Sejarah. Rege ini dinilai bermuatan sindiran terhadap para elit yang lupa pada sejarah.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya