Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sampah di Bengawan Solo memprihatinkan, produksi PDAM terancam

Sampah di Bengawan Solo memprihatinkan, produksi PDAM terancam Sungai Bengawan Solo. ©2015 merdeka.com/arie sunaryo

Merdeka.com - Kesadaran masyarakat tidak membuang sampah di Sungai Bengawan Solo masih dipertanyakan. Kondisi itu membikin sungai terpanjang di Pulau Jawa ini tercemar tidak hanya oleh sampah organik, tetapi juga oleh limbah pabrik.

Kondisi itu membikin produksi air bersih di Solo terganggu. Kabid Produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Solo, Joel Hartono mengatakan, volume sampah di Sungai Bengawan Solo sudah dalam kritis. Bahkan, sebagian menyumbat pipa milik PDAM yang ada di dalam sungai. Sebagian sampah lainnya bisa masuk dan akhirnya menyumbat mesin instalasi pengolahan air (IPA), di Sungai Bengawan Solo milik PDAM.

"Kondisinya memang kritis sudah kritis. Setiap harinya kami harus mengangkat sekitar 50 kilogram sampah. Timbunan sampah tersebut jelas sangat mengganggu proses produksi air bersih milik PDAM Solo," ujar Joel Hartono, Kamis (14/4).

Joel mengatakan, sumbatan sampah sering mengakibatkan mesin penyedot rusak, hingga terbakar. Akibatnya, dalam setahun kerusakan dan penggantian komponen bisa sampai tiga hingga empat kali. Bahkan, tidak jarang PDAM terpaksa menghentikan produksi karena harus melakukan perbaikan.

'Musim hujan seperti ini, gangguan sampah akan semakin terasa, karena volume sampahnya pasti juga meningkat. Kalau hanya rusak ya diperbaiki, biayanya sekitar Rp 15 juta. Tapi kalau komponen terbakar ya harus diganti, harganya Rp 50 juta," ujar Joel.

Ancaman tak hanya dari sampah, tetapi juga menghadapi limbah cair dari industri batik. Limbah berbahaya itu sebagian besar berasal dari Sungai Jenes, yang merupakan anak Sungai Bengawan Solo.

"Jika dibiarkan, limbah yang semakin pekat pada musim kemarau itu akan mempengaruhi kualitas produksi air PDAM. Produksi air tetap bersih, tapi warnanya menjadi kekuningan sehingga tidak layak dijual ke pelanggan," keluh Joel.

Joel menambahkan, dia setiap hari membutuhkan satu dump truk lumpur atau sekitar sekitar 3,5 meter kubik, buat mengikat polutan sebelum air sungai masuk instalasi pengolahan. Lumpur diambil dari Bendungan Colo, Sukoharjo, dengan biaya Rp 400 ribu per hari.

Saat ini, PDAM Solo memiliki dua instalasi pengolahan air (IPA) yang memanfaatkan aliran air Sungai Bengawan Solo. Yaitu di kawasan Jurug dan Jebres. IPA Jurug menghasilkan debit air seratus liter per detik. Sedangkan IPA Jebres memproduksi 50 liter per detik. Namun, air di sekitar kedua IPA itu banyak terdapat timbunan sampah serta tercemar limbah industri.

Selain dari IPA Bengawan Solo, kebutuhan air PDAM juga dipasok dari mata air Cokro di Kecamatan Tulung, Klaten, dengan debit air 387 liter per detik sejak 1928. PDAM juga membuat sumur dalam tersebar di 26 titik.

Direktur Utama PDAM Solo, Maryanto mengatakan, persoalan sampah di Sungai Bengawan Solo menjadi masalah PDAM yang sampai saat ini belum teratasi. Padahal, mereka akan menjadikan Sungai Bengawan Solo sebagai tumpuan produksi air minum. Dia meminta Pemkot Solo agar menerapkan sanksi yang tegas bagi pembuang sampah di sungai, seperti terutang dalam Perda Nomor 3/2010 tentang Pengelolaan Sampah. (mdk/ary)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP