Saling lapor, kasus polisi vs wartawan di Pekanbaru berlanjut
Merdeka.com - Kasus dugaan pengeroyokan dilakukan polisi terhadap Zuhdy Febrianto, wartawan peliput Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Pekanbaru, beberapa waktu lalu, terus berlanjut. Anggota polisi diduga pelaku pemukulan justru melaporkan balik sang wartawan.
Polisi diduga pengeroyok wartawan itu mengaku dicaci maki Zuhdy. Padahal Zuhdy mendapat luka cukup parah hingga berdarah di bagian kepala akibat pengeroyokan.
"Baik laporan dugaan penganiayaan yang dialami ZF, maupun laporan anggota (polisi) yang mengaku dicaci maki, itu masih kita selidiki," ujar Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo Sik kepada merdeka.com Rabu (11/5).
Zuhdy mengaku dipukul anggota kepolisian saat melakukan liputan Kongres HMI di Gelanggang Remaja Pekanbaru. Dalam laporannya, saat itu Zuhdy yang disebut-sebut juga anggota HMI tengah mengambil gambar salah seorang peserta HMI diduga dipukuli polisi.
Tidak terima, beberapa polisi merampas kamera wartawan, sehingga para para jurnalis itu protes dan meminta polisi tidak menghapus gambarnya.
Sejurus kemudian, terjadi cekcok adu mulut sehingga terjadi aksi penyerangan polisi dan berakibat fatal terhadap Zuhdy. Seketika itu belasan polisi memukul Zuhdy dengan rotan hingga kepala bagian belakangnya bocor. Korban akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Safira Pekanbaru.
Bukan tanpa sebab, para polisi yang dilaporkan telah menganiaya Zuhdy itu mengaku emosi karena institusinya dilecehkan. Para polisi mendengar bahwa Zuhdy mengucap kata kotor kepada mereka dengan menyebutkan nama hewan. "Ya, informasinya begitu (polisi dicaci maki). Itu masih kita dalam," jelas Guntur.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya