Saat jiwa perjuangan Soekarno merasuk kepada Salim Kancil
Merdeka.com - Sudah 12 hari âSalim Kancil berpulang. Namun sosok dan namanya masih diperbincangkan. Dia rela mengorbankan nyawa buat menolak penambangan pasir besi liar di Pesisir Watu Pecak, Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang, Jawa Timur.
Kejadian menimpa Salim pada 26 September lalu masih menyisakan luka pada keluarganya. Istrinya, Tijah, dan anak perempuannya, Ike Nurillah, masih mengenang bagaimana perangai ayahnya semasa hidup.
Asal sebutan Kancil melekat kepada Salim bermula dari masa kecilnya. Salim saat masih bocah dikenal nakal dan suka mencuri timun.
"Digerogoti setiap hari timun tetangganya di kebun. Diambil terus, sampai yang punya enggak sempat panen. Terus yang punya kebun timun bilang, 'Oh seperti kancil senangnya nyuri timun," kata Tijah di rumahnya kemarin.
Namun seiring waktu, tingkah laku Salim Kancil yang nakal berubah. Di masa dewasanya Salim Kancil punya banyak teman dekat dan sifatnya jadi berubah menjadi pendiam dan sabar.
"Bapak itu pendiam, jarang ngobrol. Dia juga kalau disalahkan tidak marah," kata Ike.
Meski demikian, ketika sawahnya rusak, Salim bangkit menolak kegiatan tambang pasir besi ilegal. Sebab jika penambangan liar terus beroperasi, sawahnya akan semakin dalam terendam air laut.
Karena menggalang gerakan penolakan penambangan pasir besi liar dan mengajak warga, Salim Kancil dan beberapa rekannya kerap diteror. Para peneror itu merupakan Tim 12, binaan âKepala Desa Selok Awar-awar, Hariyono. Tim 12 dipimpin oleh Mat Dasir alias Abdul Holiq. Mereka juga diminta Hariyono mengelola tambang pasir ilegal di Pesisir Watu Pecak. Hariyono juga yang mengangkat Mat Dasir sebagai kepala keamanan desa, dan dimasukkan dalam struktur Balai Desa. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya