RSSA Malang Pastikan Satu Pasien Meninggal Dunia Bukan Terinfeksi Virus Corona
Merdeka.com - Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang merawat delapan orang dengan prosedur penanganan Corona. Namun semua pasien dinyatakan negatif Corona. Satu pasien meninggal dunia. Pihak RS memastikan penyebabnya bukan karena virus Corona.
"Delapan orang itu ditangani sesuai dengan prosedur corona. Tersangka kita periksa dulu, sampelnya dan dipelajari riwayatnya, hasilnya negatif," kata Ketua Tim Penyakit Infeksi Re-emerging RSSA Malang, Didi Chandradikusuma, Rabu (4/3).
Didi menceritakan, satu dari 8 orang tersebut meninggal dunia, Selasa (3/3). Dia meninggal setelah mendapat perawatan rumah sakit selama 9 jam. Namun dipastikan pasien tersebut bukan karena corona virus.
"Yang penting itu bukan corona case saja, perkara itu penyebab yang lain ya itu kita kasih perawatan sampai selesai, ada yang sudah membaik. Yang penting semua itu tidak ada yang positif Corona," jelasnya.
Kronologi Pasien
Didi menceritakan, pasien yang meninggal dunia merupakan rujukan dari sebuah rumah sakit. Pasien memiliki riwayat pernah ketemu orang asing. Sehingga diterapkan prosedur untuk suspect corona sebagai prinsip kehati-hatian.
Pasien tersebut mengaku mengikuti sebuah acara di Yogyakarta yang digelar perusahaannya pada Februari. Acara itu dihadiri delegasi dari Italia, China, Perancis dan lain-lain.
Setelah kembali ke Malang pada akhir Februari, pasien itu mengaku demam dan batuk pilek.
"Pasien berobat ke rumah sakit swasta, saat itu kondisinya masih baik , kemudian semakin buruk dan tambah sesak," kisahnya.
Setelah dilakukan analisis dan dicari latar belakang serta ceritanya, ditemukan riwayat pertemuan dengan orang asing yang di Yogyakarta tersebut. Sehingga Pihak Rumah Sakit berinisiatif dan menduga infeksi corona.
"Sehingga dirujuk ke RSSA, Selaku rumah sakit rujukan. Kami juga menganggap sebagai suspect corona virus. Meskipun nanti tidak terbukti. Apapun yang dirujuk ke sini harus kita anggap sebagai pasien tersebut. Kita perlakukan sebagai pasien corona dengan alur dan SOP dengan kasus-kasus corona," urainya.
Dia menduga, kebijakan RS itu yang membuat masyarakat heboh. Padahal hanya untuk berhati-hati. Belum tentu pasien itu suspect Corona.
Pasien tersebut dirujuk ke RSSA dan sesuai alur langsung masuk ruang isolasi pada pukul 17.00 WIB. Tetapi setelah dilakukan pemeriksaan dan perawatan lagi hasilnya memang memburuk, sebelum kemudian dinyatakan meninggal dunia pukul 03.15 WIB.
"Kami sempat melakukan prosedur, pada saat pengiriman spesimen dari Kemenkes itu tidak diterima.Karena kriteria dari Kemenkes, kasus ini tidak masuk sama sekali kriteria, ODP (Orang dalam pemantauan) maupun PDP (pasien dalam dalam pengawasan)," jelasnya.
Didi mencontohkan, dalam kasus di Jakarta pasiennya berhubungan dengan orang yang dinyatakan positif. Ada pasien positif kemudian diruntut dan dicari pernah kontak dengan siapa saja.
"Pertemuan di Yogyakarta tidak ada yang sakit, walaupun pulang ke negaranya masing-masing juga tidak ada laporan yang sakit. Tidak ada laporan positif corona," ungkapnya.
Pihak rumah sakit telah melakukan pemeriksaan ke Surabaya dan memastikan bahwa pasien tersebut meninggal dunia bukan karena corona virus.
"Kami simpulkan dengan tersangka corona, ternyata bukan infeksi corona virus," tegasnya.
Pihak RSSA meminta masyarakat agar tidak panik, karena memang bukan meninggal karena corona. Penyebab meninggalnya pasien tersebut karena penyakit pernapasan biasa.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya