Kondisi bocah obesitas asal Palembang, Rizki Rahmat Ramadhon kritis. Di tengah usahanya untuk mengurangi berat badan di Rumah Sakit Muhammad Husin (RSMH) Palembang, Rizki malah koma.Edi Hartono, ayah Rizki menceritakan sebelum koma Rizki sempat dimandikan setelah mengeluh gerah.Usai mandi dan merasa segar, Rizki lalu tidur tak sadarkan diri. Padahal sejak mendapatkan perawatan empat hari di RS Mohammad Hoesin Palembang, kesehatan Rizki tidak ada masalah. Aktivitas tidur dan makannya tetap seperti biasa."Ya memang tidak sakit, kami bawa ke rumah sakit karena pingin kurusan," ungkap Edi, Jumat (22/7).Dia memastikan, Rizki dimandikan atas izin perawat. Setelah itu, dia bersama istri dan anak-anaknya, membantu Rizki mandi."Habis mandi itu, Rizki sarapan, lalu istirahat langsung tidur. Saya pulang dulu untuk kerja, yang jaga mama sama kakak-kakaknya," kata dia.Beberapa saat kemudian, Edi mendapat kabar jika putra bungsunya itu tidak sadarkan diri. Dari informasi yang dia terima, keluarga heran karena tidur Rizki sangat nyenyak dan cukup lama tak seperti biasanya."Tidurnya mungkin satu jam-an, itu tak biasa. Pas mau dibangunin, tak gerak-gerak. Dokter bilang Rizki tak sadarkan diri," tukasnya.Tim dokter penanggung jawab (DPJB) pasien Rizki Rahmat Ramadhon (10) di Rumah Sakit Muhammad Husein (RSMH) Palembang menyebut, meski berat badannya lebih rendah dibanding obesitas Arya Permana asal Karawang, Jawa Barat, namun kasus obesitas Rizki terbilang lebih parah.Rizki juga mengalami Obstructive Sleep Apnoea (OSA) atau sindrom gangguan pernapasan selama tidur yang mengakibatkan penurunan kadar oksigen darah.
Advertisement
Salah satu tim dokter dr Yulius Anzar mengungkapkan, tumpukan lemak Rizki masuk ke dalam sementara lemak Arya cenderung menonjol keluar."Obesitas Rizki memang kalah dari Arya, tapi kasusnya berbeda, bisa dibilang begitu (parah) karena terjadi penyempitan. Kalau tumpukan lemaknya keluar tidak apa-apa," ungkap Yulius.Alhasil, kesadaran Rizki mengalami penurunan yang disebabkan suplai oksigen berhenti sementara dan seperti tercekik (asfiksia) saat tidur. Namun, untuk kondisi jantung pasien masih belum terganggu oleh tumpukan lemak. Bahkan sudah ada pelebaran ruang di daerah jantung."Dalam kedokterannya disebut OSA, itu yang dialami Rizki, jika Arya tidak ada OSA," ujarnya.Menurut dia, ciri-ciri OSA di antaranya sering mengorok saat tidur dan terdapat benjolan di leher (amandel) yang semakin mempersempit jalannya pernapasan. Kondisi ini biasanya disebabkan faktor genetik."Mudah-mudahan secepatnya pasien sadar dan stabil kembali," tukasnya.Namun sekitar pukul 15.30 WIB, tangan Rizki sempat bergerak beberapa detik. Kabar tersebut disambut syukur keluarga yang sedari siang menunggu di luar gedung instalasi ICU. Sayangnya Rizki kembali tak sadarkan diri."Alhamdulillah, tadi kami lihat tangan Rizki bergerak sebentar. Pas dikasih obat oleh perawat tidur lagi," ungkap Edi.Tak hanya tangannya saja, Rizki juga sempat kontak saat ibunya, Salia, memanggil namanya secara dekat dari telinga."Waktu jam besuk tadi, mamanya manggil-manggil, memang tidak dijawab, tapi badan Rizki sempat bergerak sebentar, kayak konek begitu," kata dia.Keluarga berharap Rizki segera siuman dari komanya sehingga program penurunan bobot badannya kembali dilanjutkan."Harap-harap cemas karena Rizki itu tadinya tidak ada penyakit, cuma amandel sama kegemukan begitu," tukasnya.Tak hanya itu, keluarga juga dibuat khawatir karena saat pemasangan selang oksigen, keluar darah dari mulut Rizki.Edi mengaku turut menyaksikan sejak awal penanganan Rizki saat masuk ruang ICU. Dirinya kaget melihat cucuran darah segar keluar dari mulut Rizki ketika selang oksigen dipasang perawat."Darahnya cukup banyak, sampai keluar dari mulut. Waktu itu pelan-pelan, perawat masukkan selang ke mulutnya, ditarik ulur begitu," ungkap Edi.Pihak keluarga pun menanyakan asal dan penyebab keluarnya darah itu. Namun tim medis tak bisa memberikan jawaban memuaskan, justru membuat keluarga bingung."Dokter apa perawat tadi bilang mungkin kena tenggorokan waktu selang dimasukkan, tapi tidak bisa dipastikan," ujarnya.Edi khawatir, darah itu akibat selang ventilator mengenai amandel yang memang diidap bocah dengan berat badan 119 kilogram itu sejak tahun lalu."Kami takutkan seperti itu, kalau darahnya biasa saja tidak masalah," tutupnya.