Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Rio Capella dan penyesalan yang terlambat

Rio Capella dan penyesalan yang terlambat rio capella. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Penyesalan selalu datang terlambat. Hal itulah yang kini dirasakan mantan Sekjen Partai NasDem Patrice Rio Capella yang menjadi terdakwa kasus gratifikasi. Rio mengaku menyesal dan karier politiknya hancur akibat kasus ini.

Saat menjalani sidang kasus gratifikasi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (30/11) kemarin, mantan anggota Komisi III DPR itu awalnya mencoba membantah telah menerima uang Rp 200 juta dari Gubernur nonaktif Sumut Gatot Pujo Nugroho dan istrinya Evy Susanti.

Uang itu diduga sebagai imbalan atas jasa Rio mendamaikan Gatot dan Wakil Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi. Rio juga diminta menjalin komunikasi dengan Jaksa Agung M Prasetyo agar kasus korupsi bansos tidak ditindaklanjuti kejaksaan.

"Kamu kenapa menerima uang dari Gatot dan Evy?" tanya ketua majelis hakim Artha Theresia di ruang persidangan Pengadilan Tipikor, Jakarta.

"Saya enggak nerima Bu," kelit Rio.

"Kamu kenapa menerima uang dari Evy, kamu kan anggota DPR, tahu kan sumpah anggota DPR?" kata Artha lagi.

"Lupa Bu," ucap Rio.

Artha pun menasihati Rio. "Gimana sih Anda, kalau semua anggota DPR lupa sama sumpahnya nanti bakal makin banyak kerjaan," cetus Artha.

"Kamu tahu kan kalo menerima uang itu salah? Kenapa enggak kamu lempar saja uangnya dan jangan diterima, bisa kan kamu gitu?" tambah Artha.

Rio pun hanya menjawab dengan nada malu. "Iya Bu, saya salah."

Namun Rio sempat berdalih saat itu dipaksa menerima uang oleh Fransisca Insani Rahesti alias Siska anak buah pengacara Otto Cornelis Kaligis.

"Pada April 2015, Siska hadir dalam pertemuan yang dihadiri Gatot dan Kaligis di Hotel Mulia, tepatnya di restoran Endogin. Dalam pertemuan itu, Gatot curhat tengah ada masalah dengan wakilnya Tengku Erry Nuradi, dan meminta saya supaya diadakan islah," ujar Rio.

"Saya tolak, karena saya enggak kenal secara pribadi dengan Tengku Erry. Dia di NasDem baru seminggu, jadi enggak kenal," tutur Rio.

Maksud Gatot memberikan uang itu, lanjut Rio, supaya dirinya mampu memfasilitasi pertemuan antara Gatot dengan Ketua Umum NasDem Surya Paloh untuk membicarakan persoalannya dengan Tengku Erry Wakil Gubernur Sumut. Namun, Rio menolak permintaan Gatot.

"Saya bilang kan ada Pak OC, Pak OC aja lah langsung (ketemu Surya Paloh)," kilahnya.

Setelah pertemuan itu, terjadi islah antara Gatot dan Erry di Kantor NasDem yang dihadiri Surya Paloh, serta OC Kaligis. "Selanjutnya, setelah islah, saya dihubungi kembali oleh Siska dan bertemu di di Hotel Kartika Chandra," jelasnya.

"Sampai di situ dia kasih dokumen dan duit. Dia bilang ada titipan dari Evy, saya tanya Evy siapa, karena saya enggak pernah tahu Evy, terus dikasih tahu Evy itu istri Gatot, katanya itu ada titipan dari Evy," bebernya.

"Katanya ini buat ngopi-ngopi, breakfast," tambahnya.

"Tapi saya menolak, tapi Siska terus memaksa dan akhirnya uang tersebut saya terima. Karena kita teman dekat jadi saya nggak bisa nolak," ujarnya.

Ketika dicecar, apa duit pemberian Sisca ada hubungannya dengan islah, Rio membantah. Dia mengatakan tak pernah mengislahkan Gatot-Erry.

"Enggak ada. Bukan saya (yang mengislahkan)," ujarnya.

Rio pun curhat mengaku dimarahi Ketum Partai NasDem Surya Paloh saat dirinya menceritakan pemberian uang itu.

"Apa benar kamu bertemu dengan Surya Paloh, terus diomelin? Karena apa?" tanya Artha.

Rio pun menjawab, "Yang saya tahu karena ada pertemuan sama pemberian antara saya dan Evy."

Tak puas dengan jawaban Rio, Artha masih mencecar pertanyaan untuk Rio. "Terus tanggapan dia apa?"

"Ya beliau marah, 'Ngapain kamu terima?'" jawab Rio menirukan ucapan Paloh.

Tetapi Artha masih kurang puas dengan jawaban Rio. "Tapi kan di BAP, Paloh bilang 'hati-hati saja kalo gitu', benar? apa emang itu marah?" cecar Artha lagi.

"Saya tahu Pak Surya, kalo ngomong gitu, dia marah," ucap Rio.

Rio pun mengaku dirinya merasa hancur karena telah menerima uang Rp 200 juta itu. "Saya hancur. Saya yang membangun Partai (Nasdem) dan sekarang saya hancur semuanya," ujarnya lirih.

"Iya saya salah. Saya menyesal menerima uang dari Evy. Saya merasa dilecehkan," ujar Rio.

Setelah Rio mengakui kesalahannya, Artha berpesan agar kejadian ini dijadikan pelajaran berharga bagi Rio. "Semoga masih ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi ya," kata Artha.

"Iya, semoga," timpal Rio.

(mdk/bal)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP