Ridwan Kamil Ungkap Ragam Dinamika di Tengah Upaya Percepatan Vaksinasi Covid-19
Merdeka.com - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengungkapkan beragam dinamika yang terjadi dalam upaya percepatan vaksinasi Covid-19. Kapasitas distribusi hingga perbedaan jumlah pendataan dalam sistem merupakan hal yang harus segera diselesaikan.
Semua yang berkenaan dengan vaksin Covid-19 harus terintegrasi dalam satu wadah aplikasi bernama SMILE. Namun, saat di lapangan kerap terjadi potensi yang bisa membuat pendataan berbeda.
Ia mencontohkan bahwa data sentra vaksinasi TNI Polri sudah terlaporkan, namun catatan data ke pusat masih belum terhitung. Selain itu, saat BPBD Provinsi Jawa Barat melakukan vaksinasi di Kota Cimahi, mengupdate datanya menggunakan akun polisi yang membuat tumpang tindih pendataan.
"Ada gap data yang kita temukan, sekian ratus ribu dosis sedang kita telusuri di mana permasalahannya. Pemerintah pusat menganggap kita masih kelebihan dosis, di bawah padahal menganggap sudah habis," terang dia, Rabu (4/8).
Kemudian, ada kasus warga yang ingin mendapat vaksin namun terkendala karena masalah dokumen pribadi atau nomor induk kependudukan (NIK). Masalah tersebut sudah dilaporkan kepada Kemendagri dan Kemenkes melalui Disdukcapil Jabar agar bisa segera diselesaikan.
"Karena jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi viral. Jangan sampai masyarakat sudah mau (divaksin) tapi terkendala. Sudah koordinasi untuk mencari solusi, mudahan-mudahan ada kabar baik secepatnya," imbuh Ridwan Kamil.
Distribusi Masih Sama dengan DKI
Di sisi lain, ia menyoroti alokasi vaksin Covid-19 ke DKI Jakarta dan Provinsi Jabar relatif sama, padahal jika melihat jumlah penduduknya berbeda lima kali lipat. Ridwan Kamil mengaku sudah beberapa kali meminta ada penyesuaian jumlah vaksin yang didistribusikan disesuaikan dengan proporsi jumlah penduduk.
"Saya dalam beberapa kesempatan meminta jika ada gelombang baru vaksin yang juta juta, mohon kami diberikan proporsional dengan jumlah penduduknya," kata dia.
"Tapi kita juga paham vaksin itu didahulukan ke zona merah. Itulah mengapa jumlah vaksin ke Jakarta dan Jabar (relatif) sama. Jadi, fokus kita menghabiskan apa yang dikasih. Pengennya lebih banyak, kita habiskan. Jadi (capaian presentase vaksinasi) tidak selalu berkolerasi dengan kinerja," ia melanjutkan.
Di sisi lain, pria yang akrab disapa Emil ini menyatakan stok vaksin dari sekitar 10 juta dosis, saat ini tersisa 180.577 vial. Itu termasuk untuk vaksin single dose dan multi dose. Tempat penyimpanan vaksin memadai, karena setiap penerimaan vaksin dari kemenkes, pihaknya langsung distribusikan ke kota kabupaten.
"Agustus ini, hari Senin kemarin sudah datang vaksin Sinovac 85.510 dan 170 vial vaksin Astrazeneca. Kuota vaksin dari pusat alokasi M1 agustus 856.800 dosis," terang dia.
"Sudah ada arahan dari pemerintah pusat agar aglomerasi didahulukan lebih banyak. Bodebek dan Bandung Raya akan menerima vaksin yang lebih banyak sesuai dengan sebaran kasus," ia melanjutkan.
Sejauh ini, total jumlah distribusi selama vaksin ada yang tertinggi adalah Kota Bandung 2.547.000 dosis, Kota Bekasi 691 ribu dosis, Kabupaten Bogor 686 ribu dosis, Kota Depok 452 ribu dosis, Kota Bogor 417 ribu dosis.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya