Ribuan Hewan Ternak di Kota Bandung Banyak yang Tidak Layak Jual
Merdeka.com - Pemerintah Kota Bandung sudah memeriksa 8.331 hewan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK). Dari jumlah itu, ribuan hewan dinyatakan belum layak jual.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar mengatakan data hasil pemeriksaan sudah terintegrasi melalui aplikasi e-selamat (Sehat Layak Makin Tenang).
Hewan yang dinyatakan sehat dan layak jual pun diberikan tanda khusus berupa kalung dengan barcode. Masyarakat diminta proaktif ketika mendapati ada hewan yang bergejala PMK dengan cara menghubungi DKPP.
"Per tanggal 5 Juli sudah ada 8.331 hewan yang terdata dalam aplikasi. Kami terus melakukan pemeriksaan, memastikan hewan yang akan dijual kepada masyarakat dijamin kesehatannya," kata Gin Gin, Bandung, Rabu (6/7).
Dari 8.331 hewan yang telah diperiksa, terdapat 2.068 hewan tidak layak. Dengan rincian 6.587 domba yang telah diperiksa, terdapat 1.695 domba yang tidak layak. Kemudian 1.638 ekor sapi telah diperiksa, terdapat 355 ekor sapi tidak layak.
Untuk kambing, sebanyak 105 ekor kambing diperiksa dengan 17 di antaranya dinyatakan tidak layak. Sementara 1 kerbau yang diperiksa dan dinyatakan tidak layak.
Gin Gin tidak menjelaskan detail perihal kategori hewan tidak layak. Sedangkan untuk penanganannya dilakukan pengobatan.
Wali Kota Bandung, Yana Mulyana pun sudah menginstruksikan pemeriksaan hewan secara ketat. Hal tersebut bersamaan dengan distribusi vaksin yang masih terbatas.
"Kami dorong terus dinas terkait untuk melakukan pemeriksaan hewan kurban yang dijual di pasaran. Ini kita baru dapat 200 dosis vaksin kita udah berikan semua kepada peternak," kata dia.
Anjurkan Dikemas dengan Plastik
Di tengah kondisi PMK, Kepala Bidang Keamanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Ermariah menyarankan daging dikemas menggunakan plastik organik sebelum dibagikan kepada warga yang membutuhkan.
Apabila menggunakan daun pisang atau besek (bungkus dari bambu), darah atau cairan daging berpeluang menetes di jalan saat perjalanan pulang. Cairan tersebut berpotensi mengandung virus dan menjangkit ternak lain, sehingga dikhawatirkan akan membentuk siklus penyebaran virus yang semakin meluas.
"Yang bagus itu pakai plastik dan plastiknya yang organik. Minimal plastik bening bukan daur ulang. Kalau dibungkus pakai plastik, plastiknya tinggal direndam air panas, nanti virusnya mati dan plastiknya boleh dibuang ke tempat sampah, jangan dibuang sembarangan," kata dia.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya