Replika Kastil Natal di Solo Dibuat dari Makanan Tradisional
Merdeka.com - Menyambut Natal, sejumlah hotel di Solo berhias untuk menarik tamu yang datang. Dari pohon hingga replika kastil Natal dengan bahan yang unik atau bahkan langka. Momen Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 okupansi hotel di Solo memang rata-rata mencapai 100 persen.
Setelah tahun lalu menghadirkan pohon Natal dari Kue Pavlova, salah satu hotel ternama di Kota Bengawan, The Sunan Hotel Solo kali ini membuat Kastil Natal atau Christmas Castle. Kastil tersebut berbahan makanan tradisional yang hampir punah, yakni Kue Sempe dan Opak Angin.
General Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari mengatakan, Christmas Castle merupakan tempat Santa Clause tinggal sebelum malam Natal untuk berkeliling dunia membagikan hadiah. Pihaknya menjadikan bangunan itu sebagai ikon untuk menyambut Natal 2019.
"Replika kastil ini berdiameter 200 cm dan tinggi 180 cm," ujar Retno, Selasa (24/12).
Dia menjelaskan, kastil Natal ini dibuat dengan kue sempe dan opak angin yang terbuat dari beras ketan ditambahkan sedikit gula. Kastil ini disusun menggunakan coklat.
Executive Sous Chef, Boedi Prasetyo menambahkan menghabiskan sekitar 5kg kue sempe dan opak angin dan waktu selama 5 hari untuk membuat kastil tersebut.
"Opak angin ini memiliki tekstur yang renyah dan lembut. Begitu di gigi akan langsung lumer di mulut seperti terbawa angin," katanya.
Sedangkan kue sempe terbuat dari tepung tapioka dan gula. Kue sempe ini sebagai pelengkap makanan aromanis seperti gulali namun juga bisa di nikmati secara langsung.
Hiasan Natal unik juga terdapat di Royal Heritage Hotel, Jalan Slamet Riyadi, Solo. Di hotel ini pohon Natal tidak berwarna seperti pada umumnya, hijau dengan berwarna coklat. Lebih unik lagi pohon ini dibuat dari tanaman enceng gondok yang dikeringkan.
Public Relation Royal Heritage Hotel, Indah Ayu Kusumastuti menyampaikan,pohon setinggi 3 meter ini menghabiskan 36 kilogram enceng gondok. Pihaknya memajang pohon natal tersebut di lobi hotel hingga 5 Januari mendatang.
"Enceng gondok biasanya dianggap sebagai hama atau tanaman yang mengganggu. Pemanfaatannya sering kali untuk produk furniture atau tas anyaman. Tapi tak hanya itu saja, encek gondok bisa menjadi hiasan cantik. Ditambah dengan beberapa ornamen bisa menjadi pohon Natal juga," katanya.
Melihat keberadaan enceng gondok yang dianggap sebelah mata orang masyarakat, pihaknya lantas ingin mengedukasi pengunjung hotel bahwa tanaman tersebut bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat.
"Kami ingin mengusung isu lingkungan. Cara sederhananya dengan mengenalkan pohon Natal dari enceng gondok ini. Kebetulan hotel kami juga support hal-hal yang berkaitan dengan ramah lingkungan," jelasnya.
Agar bisa berdiri dan membentuk sebuah pohon Natal, enceng gondok dirangkai satu per satu dikaitkan dengan kawat. Pengerjaan dilakukan selama 3 hari. Sebelumnya, dibutuhkan waktu seminggu untuk menjemur enceng gondok.
"Setelah jadi kita lengkapi dengan kerlip lampu yang berada di dalam anyaman bambu. Ujung pohon Natal kita pasang bintang hasil anyaman enceng gondok," jelasnya lagi.
Melalui pohon Natal ini, pihaknya sekaligus memberikan edukasi ke tamu hotel bahwa pohon Natal bisa dibuat dari bahan apapun yang terdekat di sekitar kita.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya