Ratusan sopir angkot geruduk DPRD protes GO-JEK dan sistem satu arah
Merdeka.com - Ratusan sopir angkutan kota yang tergabung dalam Asosiasi Pengemudi Indonesia (Aspindo) mendatangi kantor DPRD Kota Manado, menyuarakan aspirasi mereka terkait adanya GO-JEK dan pemberlakuan one way traffic (OWT).
Gazali, perwakilan pemilik angkot mengatakan bahwa sejak setahun pemberlakuan OWT tidak berdampak bagi para pemilik angkot, karena pemberlakuan satu arah tidak didukung dengan penambahan infrastruktur jalan.
"Kenapa pemberlakuan jalur OWT justru diberlakukan di jalan-jalan yang paling besar di Kota Manado, bukan di jalan yang kecil," ujar Gazali, Rabu (25/1).
Gazali juga mempertanyakan tentang keberadaan dari GO-JEK, karena sejak tiga bulan diberlakukan OWT, GO-JEK justru masuk di Kota Manado
"Dibikin OWT tanpa ada sarana pendukung, kami minta kepada wakil rakyat agar sistem ini dievaluasi, GO-JEK juga dievaluasi karena tidak sah dan tanpa izin," lanjut Gazali.
Menurut Gazali, banyak sopir angkot yang beralih profesi karena pendapatan untuk menghidupi keluarga sulit.
"Saya punya angkot empat, sekarang tinggal dua yang beroperasi karena sudah tidak ada sopir, banyak yang mengeluh karena pendapatan berkurang," pungkasnya.
Terry Umboh, Ketua Aspindo mempertanyakan terkait evaluasi OWT, karena sejak diberlakukan, tidak ada jembatan penyeberangan dan fasilitas penunjang lainnya.
Terry Umboh juga mempertanyakan tentang adanya beberapa trayek yang jalurnya diubah, menurutnya perubahan jalur trayek harus ada Perwako.
Umboh juga menyoroti lahan 16 persen di kawasan Marina Plaza yang menurutnya bisa dibuat terminal dalam kota sehingga kendaraan tidak 100 persen berada di jalan.
"Sejak setahun berlaku OWT, tidak ada infrastruktur yang bertambah, tidak ada pemikiran dari pengambil kebijakan untuk membuat halte," ujarnya
Sementara itu menurut Kadis Perhubungan Kota Manado, M. Sofyan, apapun maksud kedatangan para sopir merupakan komitmen sebagai salah satu stakeholder dalam kenyamanan.
"Bagaimana ke depan menata kondisi jalan kita agar bisa memberi kenyamanan kepada semua pihak," ujar M. Sofyan.
Di tempat yang sama, Kasat Lantas Polresta Manado, Kompol Roy Tambajong mengatakan bahwa dari awal penerapannya, pelaksanaan OWT setiap hari dievaluasi dan diskusikan bersama para sopir.
"Terakhir malam minggu kemarin kita lakukan evaluasi, dan semuanya kami laporkan baik kepada atasan langsung maupun Wali Kota Manado," ujarnya.
Anita de Blouw, anggota Komisi C yang menerima aspirasi para sopir mengatakan bahwa masalah OWT sudah dikaji sedemikian rupa, kalau ada demo untuk kembalikan ke jalur sebelumnya, perlu dikaji kembali.
Victor Polii, juga anggota Komisi C mengatakan perlu dievaluasi mana-mana yang ada kekurangan dalam OWT, meskipun banyak penghargaan yang didapat dari pelaksanaan OWT, tapi kekurangan pasti ada.
Kalau penumpang diwajibkan harus turun di lajur sebelah kiri maka pemerintah harus menyediakan fasilitas penyeberangan.
"Saya kira jalan penghubung dari boulevard ke Sam Ratulangi bisa jadi alternatif mencegah kemacetan, sayangnya warga di situ kalau ada acara sering menutup jalan, perlu adanya tindakan tegas dari pemerintah," jelasnya
Sementara Lineke Kotambunan, anggota Komisi C mengatakan masalah infrastruktur yang belum tersedia dan keluhan dari para sopir akan dibahas.
"Yang jadi harapan dari para sopir akan ditampung dan ditindaklanjuti bersama," pungkas Lineke Kotambunan. (mdk/cob)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya