Rasa minder berbalik jadikan cucu Rasinah penari primadona dunia
Merdeka.com - Pewaris tari topeng Mimi Rasinah, Aerli Rasinah menceritakan pengalaman awalnya manggung di luar negeri. Kisahnya bermula ketika sanggarnya kedatangan tamu dari Belanda di tahun 2010. Mereka adalah peneliti yang fokus pada kesenian tradisional Indonesia.
"Ke Belanda 2010. Gara-gara saya pernah kejadian begitu, ini ada orang tertarik dari sana. Bagaimana semangatnya saya," kata Aerli sambil menunjukkan bekas luka bakar di lengan yang dialaminya ketika umur lima tahun, Indramayu, Jumat (18/4).
Aerli pun bercerita bahwa sewaktu kecil, dirinya ikut pertunjukan tari topeng. Namun ternyata dari situ malapetaka terjadi. Tiba-tiba petasan yang berfungsi sebagai pemanis pertunjukan membakar sekujur tubuhnya. Maklum, saat itu smoke belum mafhum digunakan di panggung pertunjukan.
Kisah tersebut menginspirasi peneliti Belanda untuk membuat pertunjukan tari topeng. Menceritakan ulang pengalaman Aerli, sebagai motivasi dan inspirasi banyak orang.
"Saya orangnya walaupun banyak menyatakan robot yang bisa bergerak, tapi dalam tanda kutip, karena tubuh saya penari tidak semulus orang penari. Masih ada cacat-cacat tertentu bekas terbakar dahulu," lanjutnya.
Tawaran untuk manggung di internasional tersebut, ibarat lecutan bagi Aerli. Semangat tari topengnya kembali hidup.
"Tapi dengan begitu semangat 45 ibaratnya. Kalau dulu saya sempat enggak bisa melihat, tidak bisa bicara, tidak bisa jalan, seperti bayi baru lahir," kenangnya.
Saat ini, banyak negara sudah 'ditaklukkan'. Sanggar Mimi Rasinah pernah manggung di Belanda, Swedia dan Nigeria. Bahkan banyak bule yang menjadi penonton setia, mengikuti ke mana sanggar Mimi Rasinah manggung.
"Saya enggak mau dikasihani. Bahwa orang cacat enggak perlu ditutupi, yang penting tidak penyakit menular," kata Aerli bersemangat.
(mdk/ren)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya