Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Putri Ismail Marzuki: Yang penting ada yang menghargai karya bapak

Putri Ismail Marzuki: Yang penting ada yang menghargai karya bapak Rachmi Aziyah putri Ismail Marzuki. ©2016 Merdeka.com/Galih

Merdeka.com - Rachmi Adiyah duduk di antara ratusan penonton yang memadati Gedung Teater Taman Ismail Marzuki saat perhelatan 100 tahun Ismail Marzuki pada 21 Mei, dua tahun lalu. Hati kecilnya gundah dan terus bertanya mengapa dirinya tak dipanggil ke atas panggung sebagai bagian dari peringatan se-abad usia bapaknya. Padahal, Rachmi adalah satu-satunya keturunan sang maestro yang masih ada dan diundang sebagai tamu dalam acara itu.

Tetapi, kegundahannya itu perlahan memudar tatkala wanita berumur 66 tahun itu menyadari perhelatan tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap jasa dan karya mendiang bapaknya. Bagi Rachmi, "yang penting masih ada yang menghargai karya bapak."

Ismail Marzuki merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Jembatan Merah, Halo-Halo Bandung, Juwita Malam, Rayuan Pulau Kelapa, dan Indonesia Pusaka adalah sejumlah karya bisa dikenang darinya. Tembang itu tak lekang ditelan masa. Bahkan selalu dilantunkan kembali oleh musikus lain hingga saat ini. "Bapak," ucap Rachmi lirih, "berkarya untuk Indonesia."

Lagu-lagu gubahan Ismail Marzuki memang acapkali tak 'dihargai'. Baru setelah pemerintah menyematkan gelar pahlawan nasional, berbagai bentuk apresiasi pun kemudian bermunculan. Mereka yang hendak menggunakan atau mengaransemen ulang lagu Ismail Marzuki dianjurkan untuk meminta izin sekaligus membayar royalti hak cipta.

Rachmi mengatakan, karya-karya bapaknya kini berada di bawah naungan PT. KCI (Karya Cipta Indonesia). Menurut dia, hal itu dilakukan supaya hasil jerih payah ayahnya memiliki hak cipta paten yang bisa digunakan guna mendapatkan royalti. "Jadi ya ada orang pakai lagu bapak terus menghubungi ke saya atau dia menghubungi KCI, lalu KCI menghubungi ke saya," tutur Rachmi kepada merdeka.com.

Dia menambahkan, ada sejumlah selebritis bermaksud menyanyikan lagu-lagu ayahnya dan langsung menghubungi dirinya melalui telepon seluler. Bahkan, ada juga yang meminta izin dengan cara datang langsung ke rumahnya. Namun, Rachmi enggan menyebutkan besaran jumlah royalti yang biasa dia terima.

"Keikhlasan hati mereka lah, prinsip saya kan bukan jual lagu," katanya.

Pemerintah juga, ungkap Rachmi, masih rutin mengirimkan santunan kepada setiap keturunan pahlawan nasional. Besarannya sejumlah Rp 1,5 juta per bulan. Tetapi, sejak tahun 2014, santunan itu menjadi Rp 50 juta rupiah per tahun. Bentuk lain dari penghargaan pemerintah ialah dengan mengundang Rachmi--atau juga putra-putri pahlawan nasional yang masih hidup, untuk mengikuti upacara di Istana Kepresidenan tiap perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.

"Tapi, karena capek dan lelah pulang dari Purwakarta, makanya tahun ini saya tidak bisa datang ke istana," tutup wanita asli Sunda itu.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP