Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pura-pura jadi pengemis buntung, Budi digulung polisi

Pura-pura jadi pengemis buntung, Budi digulung polisi pengemis. merdeka.com/Warren Goldswain / Shutterstock.com

Merdeka.com - Budi Rahmat bocah berusia 12 tahun asal Palembang harus meringkuk di balik sel tahanan Mapolsek Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Pasalnya Budi tertangkap jajaran aparat kepolisian malam tadi saat dirinya sedang melancarkan aksinya sebagai pengemis dengan berkaki buntung palsu yang beroperasi di wilayah CSW, Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ditemui di ruang tahan Mapolsek Kebayoran Baru, Budi Rahmat menceritakan bahwa dirinya ditangkap sekitar pukul 22.30 WIB malam tadi di depan gedung Al-Azhar Jl Pattimura, Kebayoran Baru Jakarta Selatan atau lebih dikenal dengan CSW. Dia ditangkap lantaran berpura-pura berkaki buntung dan menjalankan profesi sebagai pengemis. Namun saat dirinya diperiksa ternyata kakinya tersebut disembunyikan.

"Saya ditangkap malam tadi jam setengah sebelas, karena pura-pura jadi pengemis berkaki buntung," ujar Budi Rahmat menceritakan, Senin (18/6).

Lebih lanjut Budi menceritakan, bahwa dirinya baru tiga bulan berada di Jakarta dan ngontrak bersama temannya di Gudang Seng RW 09 Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Karena butuh makan untuk menyambung hidup dia rela menjalani pekerjaan sebagai pengemis jalanan. Untuk mensiasati calon korban yang merasa kasihan, dia diajarkan oleh temannya bernama Dodi untuk menekuk kakinya ke dalam, biar seolah-olah tidak mempunyai kaki.

"Saya diajarin sama abang Dodi teman se kampung yang juga satu profesi," katanya.

Tujuan dirinya ke Jakarta adalah karena diajak oleh temannya yang juga berasal dari Palembang untuk mencari pekerjaan. Dengan modal nekat dan tanpa ijazah Budi berangkat bersama temannya itu untuk mengadu nasib ke Jakarta dengan membeli tiket kapal sebesar Rp 100 ribu.

"Saya dari Palembang ke Jakarta naik kapal Rp 100 ribu, baru tiga bulan di sini, saya diajak teman," ujarnya.

Anak bungsu dari lima bersaudara ini memang pilu nasibnya, sejak ditinggal oleh kedua orang tuanya menghadap sang khalik, Budi hidup bagai anak hilang. Kakak lelakinya yang juga masih tinggal di Palembang tidak mampu untuk menyekolahkannya lantaran hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Untuk itu dia memutuskan berangkat ke Jakarta untuk mencari uang.

"Abang kandung di Palembang, orang tua sudah nggak ada. Abang saya kerjanya kuli bangunan," pungkasnya.

Selama tiga bulan dia menjadi pengemis dengan kaki palsu, uang yang dikumpulkan hanya sebesar Rp 500 ribu. Sisanya dibelikan baju, makan dan juga untuk membayar kontrakan sebesar Rp 150 ribu perbulan di daerah Halim. Dalam menjalankan profesinya, Budi mulai berangkat dari kontrakannya di bilangan Halim pukul 15.00 WIB menuju Al Azhar dengan naik Kopaja 57 jurusan Cililitan-Blok M.

"Pendapatan sehari Rp 50 ribu, sekarang sisa 500 ribu yang saya titipkan ke orang. Uangnya habis buat bayar kontrakan sama beli baju," kata Budi.

Untuk mengelabui calon korbannya Budi terlebih dahulu masuk ke sebuah got di Jalan Pattimura. Di got itu Budi lalu menekuk kakinya dan membungkusnya dengan celana pendek berukuran besar agar terlihat seperti buntung, setelah itu barulah dia beraksi menjalankan profesinya sebagai pengemis dengan kaki buntung palsu.

Ditemui terpisah, Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Polsek Kebayoran Baru, Ipda Dalby mengatakan bahwa Budi sendiri masih dalam pembinaan kepolisian. Budi menurutnya akan dipulangkan kepada pihak keluarganya setelah dilakukan pembinaan. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP