Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Puncak Kekeringan Diprediksi Terjadi pada Agustus 2019

Puncak Kekeringan Diprediksi Terjadi pada Agustus 2019 Ilustrasi kekeringan. ©2012 Shutterstock/Leigh Prather

Merdeka.com - Sejumlah daerah di Indonesia mulai mengalami dampak buruk musim panas berkepanjangan. Pasokan air berkurang, hingga kondisi gagal panen.

Puncak kekeringan diprediksi akan terjadi pada Bulan Agustus. Kekeringan dimulai sejak Juli dan diperkirakan usai pada Oktober nanti.

"Kemudian puncaknya akan terjadi di bulan Agustus," ucap Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Dody Hargo Usodo, di kantornya, Jakarta, Selasa (30/7).

Dia menegaskan, kemarau atau puncak kekeringan di bulan Agustus nanti akan sangat berbeda. Kondisinya melebihi tahun lalu.

"Kekeringan tahun ini akan melebihi kekeringan di tahun 2018," tegas Dodi.

Dia menuturkan, pemerintah sudah bergerak. Seperti BMKG yang terus memantau dan melakukan pengamatan. BNPT juga sudah menyiapkan segala teknologi mengantisipasi penanganan cuaca.

"BNPB sudah menurunkan satgas, total 1.502 orang. Tugasnya di samping ikut mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, juga memberikan edukasi kepada masyarakat," ucapnya.

Meski musim kemarau tahun ini disebut akan lebih buruk dari tahun lalu, Namun BPPT yakin kondisinya tidak akan sama seperti kemarau panjang pada 2015. Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto mengatakan, peristiwa 2015 tidak akan terjadi pada 2019. Salah satunya karena tahun ini tidak terjadi potensi elnino.

"2015 ada elnino. Sekarang lemah. Sehingga tidak sebesar itu potensi ancamannya," ucap Tri.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan juga menjelaskan, peristiwa 2015 menjadi mimpi buruk. Namun pasca itu, pihaknya berbenah dan semakin baik. Koordinasi lintas sektor berjalan dengan baik, sehingga pasca 2015 hampir tidak ada peristiwa serupa lagi.

"Sejak itu jumlah kebakaran hutan makin menurun. Cuaca fluktuasi tapi kesiapan lebih dikencangkan. Ini titik balik 2015," ucapnya.

Sebelumnya, Pelaksana Harian Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo mengatakan kekeringan terjadi di tujuh provinsi di Indonesia.

"Banyak lokasi yang terjadi kekeringan, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur," katanya di Jakarta, Selasa (16/7) seperti dikutip Antara.

Dia menjelaskan secara keseluruhan terdapat sebanyak 79 kabupaten/kota di tujuh provinsi tersebut yang mengalami kekeringan dengan perincian 1.969 desa/kelurahan di 556 kecamatan.

BNPB memperkirakan masih ada wilayah lain yang juga akan mengalami kekeringan karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau 2019 akan terjadi pada pertengahan Agustus.

"BNPB sudah mempersiapkan dana siap pakai apabila ada daerah yang kekeringan dan memerlukan bantuan," katanya.

Selain itu, kata dia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di masing-masing daerah juga tetap berupaya mengatasi kekeringan bekerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, lembaga sosial, dunia usaha, dan masyarakat.

Reporter: Putu Merta Surya PutraSumber: Liputan6.com

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP