PSI sebut keluarga benteng pertama dari radikalisme
Merdeka.com - Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Milly Ratudian mengecam aksi teroris yang melibatkan ibu dan anak-anak. Bahkan, dia mempertanyakan, sikap orang tua yang memutuskan melibatkan anak dalam aksinya.
"Ibu macam apa yang tega menyakiti anaknya? Apalagi membuat anak-anak ikut terbunuh dalam aksi mengerikan itu," katanya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/5).
Dia mengingatkan, pentingnya menjauhkan orang-orang terdekat dan keluarga dari radikalisme. Caranya dengan menjalin komunikasi yang baik. Maka, keluarga bisa menjadi benteng pertama menangkal paham radikalisme.
Agar keluarga dapat menjadi benteng pertama dari radikalisme, kata Milly, kualitas hubungan dalam keluarga menjadi sangat penting. Kualitas hubungan dapat dijaga dengan memelihara interaksi yang baik. Berikut cara memelihara interaksi yang baik dalam keluarga.
"Ada hal-hal yang tidak bisa digantikan jika hanya berkomunikasi via suara atau digital. Tatapan mata dan ekspresi yang menunjukkan perasaan sebenarnya bisa dirasakan ketika bertemu langsung. Sehingga ketika salah satu anggota keluarga terlihat mulai berbeda dapat langsung dideteksi," ujar Milly yang juga salah satu inisiator Gerakan Indonesia Berkebun ini.
Kemudian, dia menambahkan, biasakan untuk saling mengapresiasi dan mengungkapkan perasaan. Mengenalkan emosi dan perasaan sejak dini sangat penting. Anak yang sejak kecil sudah diperkenalkan terhadap berbagai emosi akan lebih mudah mengungkapkan perasaan. Jangan pernah mengabaikan ungkapan perasaan karena akan menjadi salah satu faktor yang menghalangi komunikasi.
Selain itu, lanjut Milly, menyampaikan kritik dengan bahasa yang baik, tanpa bertujuan menjatuhkan. Hal terpenting adalah menyampaikan kritik langsung ke orangnya, bukan sengaja mengumbar di depan orang banyak.
Dia menambahkan, menyelesaikan masalah antar anggota keluarga dengan resolusi konflik. Resolusi konflik adalah keterampilan berperilaku yang tepat ketika menghadapi perselisihan. Kedua pihak ditengahi oleh mediator, bersama-sama mencari kesepakatan dari permasalahan yang ada.
"Resolusi konflik di keluarga menjadi bekal menghadapi konflik di luar. Mengalami konflik, belajar mengakui kesalahan, belajar menerima kritik, belajar bertanggung jawab, dan tidak lari dari masalah merupakan kemampuan yang sangat penting," ujar ibu dua anak ini.
Terakhir, memahami bahwa setiap orang berbeda karakter. Memahami perbedaan karakter membuat kita paham bahwa tidak semua yang kita pikirkan dan rasakan itu sama dengan yang orang lain rasakan. Kita akan toleran, tidak memaksakan kehendak.
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya