Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Protes via Facebook & Twitter, bagaimana SBY dilihat Australia?

Protes via Facebook & Twitter, bagaimana SBY dilihat Australia? Facebook SBY. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Sikap lembek Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadapi Australia terus menuai kritik. SBY dianggap lemah karena tak bersikap lantang soal kasus penyadapan yang dilakukan intelijen Australia.

Presiden SBY justru memilih Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa untuk tampil di depan publik. Marty secara khusus diperintahkan SBY untuk memprotes Australia.

Tidak hanya menteri, orang lingkaran Istana juga ikut bersuara. Adalah Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah juga bereaksi.

Dari DPR, Wakil Ketua Komisi I DPR Ramadhan Pohan juga ikut bersuara mengkritik Australia. Politikus Demokrat ini menilai Australia pengecut karena tak mau minta maaf.

Ketia semua protes secara terbuka, Presiden SBY justru memilih mengungkapkan kegeramannya lewat media sosial. Twitter dan Facebook. SBY menulis kegeramannya itu dengan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Apa yang ditulis di Twitter sama dengan di Facebook.

"Sejak ada informasi penyadapan AS & Australia terhadap banyak negara, termasuk Indonesia, kita sudah protes keras," tulis SBY dalam akun Twitter-nya @SBYudhoyono, Selasa (19/11).

Presiden SBY juga kesal dengan pernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbott yang menganggap remeh isu penyadapan ini. "Saya juga menyayangkan pernyataan PM Australia yang menganggap remeh penyadapan terhadap Indonesia, tanpa rasa bersalah," ujar SBY .

Menurut Presiden, penyadapan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Australia ini telah mencederai kemitraan strategis dengan Indonesia. Apalagi Indonesia dan kedua negara itu sama-sama negara demokrasi.

"Kita juga akan meninjau kembali sejumlah agenda kerja sama bilateral, akibat perlakuan Australia yang menyakitkan itu," katanya.

Presiden mendesak agar pemerintah Australia memberikan jawaban atas penyadapan ini. "Indonesia juga minta Australia berikan jawaban yang resmi & bisa dipahami masyarakat luas atas penyadapan terhadap Indonesia,".

"Hari ini, saya instruksikan Menlu Marty Natalegawa untuk memanggil ke Jakarta Dubes RI untuk Australia. Ini langkah diplomasi yang tegas," ujarnya.

Meski didesak minta maaf, Perdana Menteri Australia Tony Abbott menolak. Penolakan permintaan maaf Abbott ia sampaikan secara terbuka di depan parlemen, bukan lewat Twitter dan Facebook.

"Australia tidak perlu meminta maaf atas langkah yang kita lakukan demi melindungi negara saat ini atau di masa lalu," kata dia di depan parlemen, seperti dilansir AFP, Selasa (19/11).

Abbott menuturkan Australia tetap akan menggunakan semua sumber daya, termasuk informasi untuk membantu negara sahabat dan sekutunya. Namun dia juga menyatakan menyesal atas segala hal yang telah membuat malu Presiden SBY di media-media.

"Australia sangat menghormati Indonesia, baik pemerintah maupun rakyatnya," kata dia. "Saya menganggap Presiden SBY sebagai teman baik Australia, bahkan salah satu sahabat terbaik di dunia."

"Karena itulah saya dengan tulus menyesali segala hal yang telah membuat malu SBY di media-media." katanya.

(mdk/dan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP