Presdir Paramount Enterprise kembali diperiksa KPK
Merdeka.com - Presiden Direktur PT Paramount Enterprise International, Ervan Adi Nugroho menyambangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (7/6). Kedatangan Ervan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sebagai saksi terkait suap pengajuan Peninjauan Kembali pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
"Saksi untuk DAS (Doddy Arianto Supeno) lanjutan pemeriksaan sebelumnya," ujar pelaksana harian kabiro humas KPK Yuyuk Andriati saat dikonfirmasi.
Namun Yuyuk tidak menjelaskan lebih lanjut konfirmasi seperti apa yang dilakukan oleh penyidik KPK terhadap Ervan. Setibanya di Gedung KPK, pria berkacamata itu terlihat membawa beberapa dokumen.
Diketahui pemeriksaan Ervan terkait saat KPK melakukan operasi tangkap tangan Doddy Arianto Supeno (DAS) dan Edy Nasution (EN) pada Rabu (20/4) sekitar pukul 10.45 WIB di sebuah hotel bilangan Jakarta Pusat. Keduanya diciduk KPK seusai melakukan transaksi terkait pengajuan Peninjauan Kembali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Dari hasil penangkapan, KPK menyita uang Rp 50 juta dari Edy Nasution. KPK masih mendalami kasus ini sampai menemukan otak pelaku utama. Pasalnya keduanya diduga masih sekedar perantara dari pihak tertentu.
Hal itu didasari dengan pemberian juncto pasal yang dikenakan terhadap keduanya oleh KPK. Untuk Edy Nasution selaku penerima dikenakan pasal 12 huruf a dan atau huruf b dan atau pasal 13 undang undang tipikor nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah undang undang nomor 20 tahun 2001 jo pasal 64 kuhp pasal 55 ayat 1 ke-1 kuhp.
Sedangkan untuk Doddy Arianto Supeno selaku pemberi dikenakan pasal 12 huruf a dan atau huruf b dan atau pasal 13 undang-undang tipikor nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah nomor 20 tahun 2001 jo pasal 64 kuhp jo pasal 55 ayat 1 ke-1 kuhp.
Atas pengembangan kasus ini KPK pun langsung menggeledah empat lokasi diantaranya kantor PT Paramount Enterprise di Gading Serpong Boulevard Tangerang, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, rumah Nur Hadi sekretaris Mahkamah Agung, terakhir di ruang kerja milik Nur Hadi di Mahkamah Agung.
Dalam penggeledahan di rumah Nurhadi, penyidik menemukan uang total Rp 1,7 miliar dengan beberapa mata uang asing setidaknya ada lima jenis mata uang asing yang ditemukan USD 37.603, SGD 85.800, Yen 170.000, Real. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya