Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

PPKM Darurat Membuat Penjual Hewan Kurban di Depok Turun Omzet

PPKM Darurat Membuat Penjual Hewan Kurban di Depok Turun Omzet Penjual hewan kurban di Depok. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Penjual hewan kurban di Kota Depok mengeluh penjualan yang merosot selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Diketahui bahwa PPKM Darurat diberlakukan sejak Sabtu (3/7) lalu. Ruang gerak warga pun dibatasi dengan adanya penyekatan dan jam malam. Hal itu membuat warga sulit keluar rumah untuk melihat hewan kurban di lapak.

Ridwan (38) penjual hewan kurban di Grand Depok City (GDC) mengatakan, dampak dari pemberlakuan PPKM Darurat oleh pemerintah berimbas pada berkurangnya daya minat masyarakat untuk membeli hewan kurban. PPKM Darurat diberlakukan mendekati hari raya Idul Adha. Padahal itu adalah masa di mana warga banyak mencari hewan kurban di tahun-tahun sebelumnya.

"Ya sejak PPKM Darurat ini memang jadi turun drastis pembeli, karena warga kan dilarang keluar rumah dan dilakukan banyak penyekatan di jalan-jalan," kata Ridwan kepada wartawan, Kamis (15/7).

Mendekati hari raya Idul Adha ini hewan kurban di lapaknya masih tersisa sekitar 100 ekor. Padahal di tahun-tahun sebelumnya sepekan menjelan Idul Adha adalah puncak kenaikan pembeli datang ke lapak.

"Mendekati Hari Raya Idul Adha baru laku 150 ekor sapi kurban, biasa sudah dapat bisa menjual 200 ekor sapi," akunya.

Dia pun mengaku bingung karena jika tak laku semua dia berpotensi menanggung kerugian besar. Pasalnya dia tidak mungkin mengembalikan hewan tersebut ke peternak karena diambil dari luar Pulau Jawa. Hewan kurban di lapaknya hanya tersedia sapi yang didapat dari perkumpulan peternak sapi yang ada di daerah Bima.

"Sapi-sapi kita ini merupakan hidup di alam liar dengan pengawasan masing-masing peternak di setiap desa," tuturnya.

Dengan kondisi seperti sekarang, Ridwan mengaku cemas karena masih banyaknya hewan yang belum terjual di lapak. Sapi yang ada di lapaknya rata-rata dibandrol sekitar Rp 15-35 juta dengan bobot berat mulai dari 250 Kg-415 Kg. Dia pun berharap sapi yang belum terjual dapat segera laris.

"Sebagai perwakilan para peternak sapi asal Bima, kita meminta berharap di tengah masa pemberlakuan PPKM Darurat pemerintah Kota Depok dapat membantu mensosialisasikan membantu menjual dengan membeli sapi," harapnya.

Ridwan menuturkan, perbedaan sapi Bima jika dibandingkan sapi Jawa adalah di tekstur daging yang padat dan kemerahan. Dia juga menjamin untuk kesehatan hewan kurban di lapaknya karena sudah ada pemeriksaan berkala dari dinas peternakan.

"Dari tahun ke tahun para pelanggan dari Jabodetabek selalu memesan. Untuk tahun ini ada pemberlakuan PPKM darurat, kita juga membuka pemotongan hewan kurban sapi sehingga sudah rapih siap diantarkan ke pembeli. Hal ini setelah ada larangan dari pemerintah tidak boleh ada solat Ied san potong hewan kurban di masjid," ungkapnya.

Sementara itu Rudi, warga Cibinong mengaku sengaja datang ke kandang penjualan kurban sapi Bima di daerah GDC. Dia mendengar sapi yang dijual di sana memiliki kualitas yang baik. "Ini baru pertama kali saya membeli sapi kurban Bima. Berdasarkan informasi kualitas sapinya baik beda dari sapi jenis lain," katanya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP