Potret suram penerbangan Indonesia gara-gara pilot konsumsi narkoba
Merdeka.com - Dua pilot Susi Air positif morfin saat dicek urine oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Keduanya dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan laboratorium di BNN Pusat.
Kasus ini kian menambah potret suram wajah penerbangan tanah air. Sebelumnya, seorang pilot maskapai penerbangan Citilink pesawat QG-800 jurusan Surabaya-Jakarta, diduga mabuk, Rabu (28/12). Kecurigaan itu menyusul para penumpang yang aneh mendengar informasi dari sang pilot saat hendak berangkat. Belakangan video diduga sang pilot ketika memasuki bandara pun beredar luas di media sosial.
Sementara, dua pilot berkewarganegaraan asing itu masing-masing berinisial BH dan DE, diterbangkan dari Bandara Tunggul Wulung, Cilacap, menuju Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (11/1) sore, dengan menggunakan penerbangan khusus Susi Air dan dikawal langsung Kepala BNN Kabupaten Cilacap Ajun Komisaris Besar Polisi Edy Santosa. Edy Santosa mengatakan, pihaknya berinisiatif membawa dua pilot itu ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan di Laboratorium BNN Pusat.
"Di samping atas permintaan manajemen Susi Air, kami juga harus membawa mereka menjalani pemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan kepastian karena peralatan di BNN Pusat lebih komplit. Pemeriksaan tersebut meliputi rambut dan darah," kata Edy.
Keputusan untuk membawa dua pilot itu ke Jakarta diambil setelah pihaknya bertemu dengan dokter maskapai Susi Air yang datang dari kantor pusatnya di Bandara Nusawiru, Pangandaran, Jawa Barat. Kendati demikian, Edy enggan menyebutkan secara rinci apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan antara BNN Kabupaten Cilacap, dokter maskapai Susi Air, dan kedua pilot tersebut.
Kepala BNN Pusat Komjen Budi Waseso menegaskan kedua pilot itu terancam pidana. Budi menjelaskan, bila itu dilakukan saat akan menerbangkan pesawat maka kedua pilot tersebut bisa dikenakan atau diancam pasal percobaan pembunuhan.
"Hasil pemeriksaan pilot ini mengakui dan dengan sadar menggunakan. Saya tanya dalam pesawat itu penumpangnya manusia. Sama saja jika menggunakan narkoba saat menerbangkan pesawat, itu artinya mengancam keselamatan penumpang. Ini sama saja dengan upaya percobaan pembunuhan. Karena sadar menggunakan narkoba dalam fungsinya sebagai penerbang," tegas Waseso, Kamis (12/1).
Sedikitnya dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ada empat pilot terindikasi menggunakan narkoba ketika menerbangkan pesawat. Budi menyebut, hampir semua insiden kecelakaan pesawat akibat sang pilot menggunakan narkoba.
"Untuk saat ini ada empat pilot yang dalam penanganan kami terindikasi dengan sengaja memakai narkoba. Tapi bisa dikatakan hampir semua insiden kecelakaan pesawat, pilotnya saat di tes urine hasilnya positif," kata Budi.
Budi menyebut, ada pilot oleng lantaran mengisap tembakau kimia gorila. Kemudian dua pilot Susi Air baru-baru ini juga terindikasi memakai narkoba. Bahkan insiden Lion Air terjun bebas di pantai ujung landasan Bandara Ngurah Rai Bali tahun 2013 lalu juga terindikasi akibat pilot memakai narkoba.
Dikatakannya, pesawat Lion Air Penerbangan 904 kala itu berangkat dari Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat menuju Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Saat pendaratan, pesawat justru mengalami kecelakaan dan mengakibatkan badan pesawat terbelah akibat mendarat di luar dari landasan.
"Saat itu pilotnya ada indikasi menggunakan narkoba dan sudah di proses," kata Budi.
Sementara, untuk kedua pilot Susi Air sedang didalami pihak BNN. Meski begitu, pihaknya menduga kuat bahwa para pilot menggunakan narkoba jenis heroin.
"Masih dalam proses pemeriksaan mendalam. Apalagi dari pemeriksaan diketahui sebelumnya juga pernah melakukan hal yang sama di maskapai lain," terangnya.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menginstruksikan kepada semua aparat di kementeriannya untuk meneliti semua prosedur operasi standar (SOP) penerbangan agar dilakukan dengan konsisten dan tegas.
Menhub mengakui aviasi di Indonesia saat ini dalam suasana prihatin dan ada kejadian yang tidak patut, terkait ditemukannya sejumlah pilot yang diindikasikan menyalahgunakan zat terlarang. Padahal, katanya, dunia aviasi sangat ketat dan membutuhkan disiplin yang harus diikuti, disamping sudah ada regulasi yang mengatur.
Menteri Budi mengatakan jika dilihat dari regulasi yang sudah ada, maka setiap tindakan dan kegiatan penerbangan sudah ada regulasi yang melekat. "Tapi tampaknya ada pihak yang menyepelekan regulasi dan pihak seperti ini yang harus dilibas," kata Budi.
Kemenhub, katanya, akan terus melakukan penegakan hukum terhadap semua pihak yang ketahuan melakukan pelanggaran agar tidak membahayakan keselamatan penumpang dan masyarakat. Dikatakan, Kemenhub bukan berarti reaktif tapi akan terus tegas dan lugas dalam menegakan peraturan agar penerbangan di Indonesia bisa selalu mengedepankan keselamatan.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya