Pontianak dikepung kabut asap, warga alami sesak napas
Merdeka.com - Kabut asap terasa kian pekat menyelimuti kota Pontianak, Kalimantan Barat, sepanjang hari Minggu (19/8). Bahkan, sejak pagi, lahan kembali terbakar di kawasan Paris 2 yang berada di pinggir jalan ibu kota Provinsi Kalimantan Barat.
"Jadi sesak napas, dan perih di mata. Ampuni kami ya Allah," kata Andi, warga Pontianak Tenggara, kepada merdeka.com, Minggu (19/8) malam.
Kabut asap disebabkan kebakaran hutan dan lahan, yang terjadi tidak hanya di kota Pontianak, melainkan juga kabupaten lainnya di Kalimantan Barat. Di kala senja, matahari terbenam pun terlihat menguning hingga memerah, akibat tebalnya asap di udara.
"Sakit rasanya menghirup asap ini. Rencana nanti setelah gajian ini, saya mau ke hutan, hirup udara yang lebih segar di hutan," ujar Andi.
Bahkan hari ini, kembali terjadi kebakaran lahan, yang diduga sengaja dibakar oleh warga tidak bertanggungjawab. Lokasinya, berada di kawasan Paris 2 ujung, kota Pontianak.
"Tadi siang saya sempat jalan lewat Paris 2. Itu ada lahan terbakar, asap tebal. Padahal di pinggir jalan, kenapa tidak ada yang cepat memadamkan?" kata Andi heran.
"Semestinya yang berwenang, bisa tanggap. Kejadian (Karhutla) ini, seharusnya tidak berulang setiap tahun setiap kemarau. Masyarakat yang jadi korban," terang Andi.
Warga Pontianak lainnya, Sahabudin (40) pun demikian, mengeluhkan pekatnya kabut asap. "Tolong diredam lah, sakit kita rasakan asap ini," sebutnya.
Alat pengukur Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) kota Pontianak milik KLHK Stasiun Pemantau Kualitas Udara Pontianak, dengan parameter partikulat PM 10, udara kota Pontianak berkategori sangat tidak sehat dengan angka 215 µgram/m3, dengan pembaharuan terakhir, Sabtu (18/8) pukul 15.00 WIB. Sedangkan ambang batas hanya 150 µgram/m3.
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya