Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Polisi penambal ban pilih jujur dan sabar ketimbang terima sogok

Polisi penambal ban pilih jujur dan sabar ketimbang terima sogok Aiptu Mustamin. ©2016 merdeka.com/mappesona

Merdeka.com - Kecil tetapi berarti, itulah usaha tambal ban yang digeluti Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) Mustamin (57), anggota satuan Sabhara Polsek Ujung Pandang. Usaha tambal ban itu, bukan hanya buat menambah penghasilan harian untuk keluarga, tetapi juga untuk orang-orang sekitar. Sebab saat dia sedang dinas di pagi hari, yang menggantikan pekerjaan sebagai tukang tambal ban adalah tukang-tukang becak kenalannya yang mangkal di sana.

"Kalau pagi saya dinas. Nanti saat benar-benar lepas dinas dan tidak ada lagi perintah komandan, baru saya ke tempat usaha tambal ban. Jadi yang berjaga di situ saat pagi hari adalah tukang-tukang becak. Dia melayani kalau ada yang singgah mau tambah angin ban kendaraannya atau tambal ban," kata Aiptu Mustamin, Kamis (26/5)

Sebelum dikaryakan, terlebih dahulu tukang becak itu diajari sehingga jika lagi sepi penumpang, bisa nyambi di usaha tambal ban ini didukung satu mesin compressor yang dibelinya sejak tahun 1997 lalu.

Sebelum pindah di ujung Jalan Amanagappa empat tahun silam, usaha kakek tiga cucu ini berada di Jalan Alimalaka. Namun karena ada pembangunan di sana, dia pun tergusur dan mengambil tempat di ujung Jalan Amanagappa yang terbilang ramai lalu lintas kendaraan.

Warga Asrama Polisi (Aspol) Tallo Lama di Jalan Sultan Abdullah Raya ini mengaku, dirinya belajar cara mengerjakan menambal ban dari seorang kenalan.

Setelah beberapa lama digeluti, usaha tambal ban ini pun bukan lagi sekadar untuk cari uang tetapi untuk menyalurkan hobi. Makanya, kelak jika masa pensiun tiba, Mustamin mengaku tetap akan menambal ban.

"Sebentar lagi saya pensiun, dari pada tinggal di rumah saja yah lebih baik isi waktu dengan kegiatan menambal ban, membantu orang lain," tuturnya santai.

Aiptu Mustamin menjadi polisi sejak tahun 1979 lalu. Dari istrinya, Nursin Warlela, lahir tiga anak dan satu anak angkat. Keempat anak itu masing-masing Bripka Muhammad Yunus, penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), keponakan yang dijadikan anak angkat bertugas di Polres Mamasa, Kabupaten Mamasa, Propinsi Sulbar.

Kemudian Brigpol Muhammad Fajri, Kepala Unit Intelijen Polsek Aralle, juga di kabupaten Mamasa, Muhammad Faisal Widianto, karyawan kontrak salah satu perusahaan elektronik di Jepang dan terakhir si bungsu, perempuan bernama Fanarsih Wardana.

Dalam menjalani kehidupan termasuk dalam mendidik anak-anak, Aiptu Mustamin selalu berpegang pada pesan orang tua yang diwariskan ke anggota keluarganya. Yakni senantiasa harus bersikap jujur, sabar dan menjalankan perintah Allah SWT.

"Tiga hal ini saya jadikan pedoman yang juga diajarkan kepada anak-anak. Termasuk di dalamnya soal sogok. Orang tua berpesan jangan ambil hak orang lain karena disogok itu berarti ada hak orang lain yang kita ambil," kata Aiptu Mustamin.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP