Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Polisi beri pemahaman Islam pada anak bomber Mapolresta Surabaya

Polisi beri pemahaman Islam pada anak bomber Mapolresta Surabaya anak kecil korban bom mapolres Surabaya. ©Istimewa

Merdeka.com - Dampak aksi teror bom bunuh diri begitu nyata, dengan kekuatan daya rusaknya yang meluluhlantakkan bangunan tiga gereja di Surabaya. Puluhan nyawa melayang, dan beberapa harus mengalami cacat fisik sepanjang hidupnya.

Lebih jauh dari itu, aksi teror Minggu (13/5) pagi itu juga menyisakan luka psikis dan sosial di masyarakat dengan dampak yang lebih berat. Korban usia anak-anak akan lebih berat dari yang dirasakan para orang dewasa.

Tidak kalah kompleksnya adalah penderitaan yang dialami oleh anak-anak dari para pelaku bom bunuh diri. Setelah menyembuhkan luka fisiknya, tugas besar selanjutnya adalah menyembuhkan psikisnya.

"Treatment tersendiri termasuk untuk anak dari pelaku di Poltabes yang diselamatkan itu. Kemarin sudah datang dari Jakarta, KPAI dan Komnas Perlindungan Anak sudah datang ke sini, diskusi bagaimana ke depannya," kata Irjen Machfud Arifin, Kapolda Jawa Timur, Kamis (17/5).

Tahapan yang akan dilakukan, khusus terhadap AIS (8) setelah luka fisiknya dinyatakan sembuh adalah upaya menghilangkan traumatik. Traumatik center akan berjalan, baik trauma ledakan maupun treatment kejiwaan.

"Langkah ketiga adalah memberikan pemahaman terhadap Islam yang benar terhadap anak-anak yang bersangkutan," jelasnya.

"Pengisian keagamaan yang benar 'jangan dibilang bapaknya sudah masuk surga, karena berjuang' kan enggak bener, teringat terus," sambung Machfud.

Tahapan selanjutnya, dia mengungkapkan, akan menyerahkan anak tersebut kepada pihak atau kerabat yang diyakini mempunyai pemahaman ajaran agama yang benar. Ini untuk menjauhkan anak tersebut masuk dalam persoalan yang serupa.

"Nanti kalau keluarganya yang menerima belum diyakini, ada Kemensos, ada safehouse (rumah aman) yang siap menampung. Sudah kemarin staf Kemensos datang," terangnya.

Sedangkan untuk tiga anak dari penindakan di Rusunawa Sidoarjo akan dikomunikasikan dengan neneknya. Karena, khusus satu anak yang sejak awal ikut neneknya seharusnya mengikuti ujian di sekolahnya.

"Nanti kita panggil neneknya, siapa tahu dia masih sekolah di tempat umum. Kalau mau ujian kan sayang. Dikembalikan ke neneknya untuk sekolah, kalau mau melihat adiknya yang masih dirawat, bisa datang," jelas Machfud.

(mdk/fik)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP