Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Polemik tembok perbatasan, rakyat Meksiko ramai-ramai boikot AS

Polemik tembok perbatasan, rakyat Meksiko ramai-ramai boikot AS Seleb cantik di demo Trump. ©AFP PHOTO

Merdeka.com - Sejak berkantor di Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara perlahan mulai memenuhi janji-janji kampanyenya satu per satu. Kebijakan pertama adalah memerintahkan eksekutif untuk membatalkan keikutsertaan AS dalam pasar bebas trans-Pasifik, atau Trans-Pacific Partnership.

Baru-baru ini, Trump terlibat perseteruan dengan negara tetangganya Meksiko. Kisruh itu terjadi akibat kebijakannya untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan antara kedua negara. Bukan hanya itu, presiden ke-45 AS itu juga meminta agar Meksiko yang membiayai seluruh pembangunannya.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi ABC News, Trump sebelumnya mengatakan Meksiko akan diminta membayari 100 persen biaya pembangunan tembok itu. Tentu saja kebijakan itu ditolak mentah-mentah oleh Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto.

"Saya katakan sekali lagi, Meksiko tidak akan membiayai pembangunan tembok mana pun. Sebagai presiden saya bertanggung jawab untuk membela kepentingan Meksiko dan rakyat Meksiko," ujar Pena Nieto, seperti dilansir BBC, Kamis (26/1).

Senada dengan sang presiden, rakyat Meksiko pun ramai-ramai mengumandangkan perang dengan AS dengan cara memboikot produk-produk asal negeri Paman Sam itu. Ajakan boikot itu disebarluaskan melalui jejaring sosial, dengan mencantumkan gambar lengan yang sedang meninju, dilengkapi warna merah, putih dan hijau serta emblem elang khas bendera Meksiko.

"Pelanggan, ayo teriak perang," bunyi tulisan itu dalam bahasa Spanyol. "Beli produk buatan bangsa. Gunakan kekuatan pembelian anda demi menghukum perusahaan yang mendukung kebijakan pemerintah AS yang baru."

Gambar itu dibuat oleh kelompok aktivis di Meksiko, mereka juga membuat sejumlah pesan, meme dan video yang akan disebarluaskan sejak Trump mendorong pembangunan tembok perbatasan, deportasi dan membuat aturan dagang baru. Mereka mengajak agar tidak membeli produk dari McDonalds, Walmart dan Coca-Cola, bahkan hastag #AdiosStarbucks, atau 'selamat tinggal Starbucks' juga mewarnai jejaring sosial di negara itu.

"Kami ingin hadapi ancaman Trump dan perang ekonominya," ujar Enzzo Omar Sosa, salah satu pendukung aksi boikot bernama Mexicanos Al Grito de Guerra, atau 'Rakyat Meksiko siap teriak perang'. Kelompok ini memiliki akun messos dengan ratusan ribu pengikut.

"Kami butuh dukungan dari perusahaan Meksiko untuk memberikan lapangan pekerjaan dan membangun makro ekonomi kita," tambahnya. Dia yakin, hal itu bisa menekan Trump untuk menarik kembali kebijakannya.

Meski ajakan boikot sudah dikumandangkan, belum diketahui apakah aksi ini memberikan dampak berarti atas bisnis yang dimiliki perusahaan-perusahaan AS di negara itu. Meski demikian, dukungan semakin menguat sejak Trump menandatangani perintah eksekutif terkait pembangunan tembok perbatasan, Rabu (25/1) kemarin.

Seorang manajer Starbucks di Kota Meksiko sendiri mengaku tokonya sudah mengalami penurunan hingga 10 perseb. "Ini sangat buruk karena ini adalah waralaba dan berpengaruh terhadap lapangan pekerjaan di Meksiko." Starbucks sendiri tidak mengungkapkan dukungan apapun terhadap kebijakan Trump, namun mereka juga tidak bisa menghindari protes yang terjadi di seantero negeri.

Sejumlah aksi demonstrasi juga terjadi di luar Kedutaan Besar AS di Kota Meksiko, di mana para pengunjuk rasa membakar boneka sang presiden. Mereka menolak mentah-mentah permintaan Trump agar negaranya membayar penuh pembangunan tembok itu.

"Mereka bisa bangun apapun yang mereka inginkan di wilayahnya sendiri. Tapi bayar semua itu sendiri. Desakan agar kami membayar itu merupakan misi lain untuk mengalahkan kami," teriak seorang demonstran, Maria Garcia.

Gedung Putih sendiri meyakini pembangunan tembok yang penuh kontrovesial itu akan memakan biaya sebesar USD 15 miliar, atau sekitar Rp 200 triliun, dan Meksiko diminta untuk membayarnya. Setelah ditolak, Trump berencana menaikkan pajak atas barang dagang yang dikirim dari negara tetangganya itu sebesar 20 persen. Sementara, saat kampanye Trump juga pernah menyebut biaya pembangunan itu akan diambil dari kiriman uang yang dikirim pekerja asal Meksiko dari AS setiap tahun.

Trump membuat kebijakan ini untuk mencegah masuknya imigran gelap ke AS, termasuk mengadang penyelundupan narkoba. Rencananya, tembok itu bakal dibangun di sepanjang 3.201 kilometer perbatasan AS dan Meksiko. Itupun belum termasuk perbatasan maritim sepanjang 48 km di Samudera Pasifik dan Tanjung Meksiko.

Sebelum rencana ini dikumandangkan Trump, AS sendiri telah membangun pagar perbatasan yang dibangun di sepanjang 970 km. Pembangunan itu dimulai sejak 2006 lalu, dan memakan biaya sebesar USD 2,8 juta, atau Rp 37,4 miliar, dengan kurs USD 1 sama dengan Rp 13.361.

Namun, proses pembangunan sempat terhambat pada 2010 karena kurangnya dana, namun pembangunan pagar itu sendiri sudah mencapai 1.030 km. Untuk sistem keamanan, dibangun pula sistem radar, menara pantau dan sensor. Sayang, hal itu tak cukup untuk mencegah masuknya imigran gelap yang jumlahnya mencapai 763 juta per tahun. (mdk/tyo)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP