Plus minus dokter muda harus tugas di daerah terpencil
Merdeka.com - Menjadi dokter di pedalaman memang tak mudah. Kebanyakan profesi ini hanya diminati para dokter yang memiliki jiwa sosial tinggi. Sebab di pelosok negeri, tak ada upah seharga porsi kerja yang berat.
Salah seorang yang sudah lama mendedikasikan diri di pedalaman tersebut ialah Dr Alex Pigai. Dia kini bekerja pada Puskesmas di wilayah Long Suluy, kampung yang terletak di hulu Sungai Kelay di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Sebelumnya Alex bekerja di pedalaman Jayapura, Papua mengikuti program Pencerah Nusantara. Kemudian dia dipindahkan ke Kalimantan Timur. Bulan September yang lalu kontraknya sudah habis, namun dia diminta oleh pemerintah daerah untuk tetap bekerja.
Alex tinggal di rumah dinas dekat tempatnya bekerja. Dia dan rekan kerjanya mempunyai jadwal kunjungan rutin menyisir beberapa kampung kecil di sela hutan belantara. Medan yang harus dia lintasi tak menentu, kadang terjal, kadang pula curam.
"Jalanan di sini jalan tanah merah. Kalau hujan, ambulans dikendalikan orang yang tidak mahir bisa jungkir balik," kata Alex saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (12/11).
Puskesmas keliling menjadi model pelayanan andalan di tempatnya bekerja. sistem pelayanan terpadu itu membuatnya rutin mendatangi 14 kampung secara bertahap. Jarak kampung terjauh di Suluy, sekitar 100 kilometer dari Puskesmas tempat ia bekerja.
"Kalau di kota kita tunggu pasien datang. Kalau di kampung kita yang datang. Kita turun ke pasien melayani dan memberikan pendidikan. Kami dekatkan puskesmas kecil ke masyarakat," tegasnya.
Menurut Alex, ada tantangan tersendiri dalam menghadapi masyarakat pedalaman yang tidak mampu meraih pendidikan. Sebagian besar masyarakat tak pernah mengenyam bangku sekolah. Pemahaman masyarakat tentang kesehatan masih minim.
"Mereka masih percaya kayak ramuan-ramuan gitu. Jadi digigit ular berbisa saja mereka masih menggunakan ramuan dari alam. Tapi dengan adanya puskesmas keliling kita ada promosi kesehatan, jadi kita kasih pendidikan melalui penyuluhan. Ada perubahan paradigma warga di sana akhirnya," tuturnya.
Pernah suatu kali ada pasien di Kampung Suluy yang butuh pengobatan. Lantas Alex dan rekan kerjanya yang lain berangkat menuju kampung kecil itu. Jarak tempuh sekitar 2 sampai 3 hari menuju ke sana.
"Jadi selama kita perjalanan mau hujan atau panas, lewati saja. Kami biasanya sekitar 6 sampai 7 orang, jadi dempet-dempetan. Kalau cuaca buruk ya mau bersandar di mana gak bisa. Tapi obat-obatan dan makanan kami amankan di dalam terpal," ungkapnya.
Di Suluy dia temui pasien yang menderita tumor di bagian dahi. Awalnya pasien tersebut tak mau diberi layanan kesehatan. Namun setelah beberapa saat diberi pemahaman, akhirnya pasien itu mau dioperasi. Kendala kembali didapati, ternyata pasien tersebut tak mampu membayar biaya operasi yang melambung tinggi. Ingin pasien tersebut terbebas dari tumor, Alex nekat mengoperasinya dengan biaya minim. Dia menggunakan plastik untuk menambal lubang di dahi pasien tersebut.
"Tapi mau gimana lagi namanya orang kampung didukung dana yang minim tetap kami operasi memakai plastik. Kita cari kresek, kita rebus. Hasilnya juga bagus tanpa infeksi," jelasnya.
Pernah pula di kampung tersebut, Alex menemui salah satu warga di bawah umur yang menderita gizi buruk. Penderita tersebut sudah sekitar 3 bulan lamanya mengalami diare. Namun orang tuanya melarang ada orang yang ingin mengobati secara medis. Alex lalu meminta kepala kampung untuk berunding dengan orangtua pasien. Hasilnya orangtua tersebut mau anaknya dirujuk ke rumah sakit sekunder terdekat.
"Waktu itu pernah juga ada pasien dengan tekanan darah 200, urinnya plus 3. Pasien muntah-muntah. Kami datang hujan-hujan, jalanan becek, kami melawan itu semua sampai bertemu ibu yang sakit itu. Kita lalu rujuk dia ke rumah sakit daerah. Hampir 9 jam kita lalui perjalanan. Itu hutan belantara jalannya, kalau sopir tak mahir bisa masuk jurang," ujarnya.
Dokter berdarah asli Nabire ini berharap ada banyak dokter yang berani memperjuangkan hak orang pedalaman untuk mendapat fasilitas kesehatan. Dia juga berharap agar tidak ada sentralisasi tenaga medis di negeri ini.
"Adik-adik yang baru selesai sekolah janganlah tinggal di kota-kota, marilah kita ke kampung-kampung mengabdi. Akan ada banyak pengalaman yang kita dapat. Ayo turun ke kampung. Mari mencari pengalaman berbagi hidup dengan orang-orang di kampung," tegasnya.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya