Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Petani kendeng: Kalau bukan kaum termarjinal bergerak, siapa lagi?

Petani kendeng: Kalau bukan kaum termarjinal bergerak, siapa lagi? Aksi cor kaki di depan istana. ©2017 merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Koalisi untuk Kendeng Lestari kembali melanjutkan aksi solidaritas 'Dipasung Semen Jilid II' di depan Istana Presiden, Jumat (24/3). Mereka masih mengharapkan sikap tegas dari pemerintah terkait kelanjutan pabrik semen yang mereka anggap sangat meresahkan.

"Pemimpin dan pejabat sudah abai pada negeri ini. Kalau bukan masyarakat, kaum lemah, dan kaum yang termarjinalkan yang bergerak, siapa lagi? Kita (rakyat) harus menyelamatkan diri kita sendiri," kata Adi, koordinator aksi, di kawasan Monas, di Jakarta Pusat, Jumat (24/3).

Adi mengatakan, kehadiran peserta aksi solidaritas untuk Kendeng ini menunjukkan sebuah bukti nyata bahwa akan selalu ada orang yang akan memperjuangkan kelestarian alam, kelestarian lingkungan, dan kelestarian kehidupan.

"Kehadiran para peserta di sini adalah bukti. Bukti bahwa akan ada orang yang akan memperjuangkan kelestarian alam, kelestarian lingkungan dan, kelestarian kehidupan," ungkapnya.

Andre, salah satu peserta mengatakan bahwa ia dan kawan-kawan yang hari ini ikut, tergerak oleh sikap turut merasakan derita sesama.

"Ini dilakukan untuk membuktikan sikap solider. Kita harus mulai belajar untuk saling percaya satu sama lain," ungkap Andre.

Selain aksi pasung kaki oleh 19 orang peserta juga menampilkan pembacaan puisi dan menyanyi bersama, baik lagu kebangsaan maupun lagu ciptaan peserta sendiri. Adi menjelaskan mereka yang dipasung tidak selalu sama tiap hari. Tiap hari ada saja yang menggantikan.

"Tiap hari (orang yang dicor) diganti. Jadi tidak sama tiap hari. Tiap aksi beda orang, dari pegiat juga dari mahasiswa," kata Adi.

Sebagai ungkapan solidaritas, aksi tolak pabrik semen juga dilakukan di sejumlah daerah. "Di Kalimantan ada, di Sulawesi ada. Masih ada lagi yang akan melakukan aksi semacam ini," ungkapnya.

Sebelumnya, dua Petani asal Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah, Gunarti dan Gunarto akhirnya dapat menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pertemuan itu terjadi karena keduanya juga anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) yang bertemu Jokowi di Istana Negara, Rabu (22/3).

Gunarti terlihat sempat menangis di dalam Istana. Dia mengatakan, air matanya tak bisa terbendung karena harapannya bertemu dengan Kepala Negara terwujud.

"Saya akan mengungkapkan apa yang jadi uneg-uneg semua saudara saya yang ada di Kendeng. Sekarang lagi mengalami keterancaman yang wilayahnya terancam dan sampai kita kemarin melakukan aksi mengecor kaki, itu karena kami saking cintanya sama ibu‎ bumi," Gunarti di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (22/3).

Gunarti menyebut Jokowi berkomitmen agar pembangunan PT Semen Indonesia di Rembang dikaji dan dikalkulasi ulang. Jokowi, kata dia, juga menyarankan agar seluruh kegiatan dan izin pabrik untuk dihentikan.

Komitmen ini merupakan komitmen awal saat Jokowi bertemu petani Kendeng pada Agustus 2016 dengan menunggu hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) keluar. KLHS itu akan keluar pada awal April 2017.

Namun, diketahui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo justru mengeluarkan izin baru yang menjadi akar dari aksi mengecor kaki dengan semen di depan Istana Merdeka, Jakarta kembali dilakukan.

‎"(Saran Jokowi) itu tidak dihiraukan sama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Akhirnya waktunya dipendekkan menjadi 6 bulan, dan 6 bulannya itu masih nanti akhir bulan April‎," ujarnya.

Maka dari itu, Gunarti menyebut Jokowi meminta dirinya dan Petani Kendeng lain yang protes terhadap keberadaan PT Semen Indonesia untuk menyampaikan ke Ganjar Pranowo. Sebab, izin tersebut dikeluarkan oleh Ganjar Pranowo dan Jokowi tak bisa ikut campur terhadap kebijakan yang diambil setiap Kepala Daerah.

"Ya itu kalau mengenai izin ya harus tanyanya sama Gubernur. selama ini sudah komunikasi sama Gubernur atau belum? jangankan, bukan hanya komunikasi, kami itu sampai melakukan apapun, jangan sampai Pak Ganjar itu mengeluarkan izin dulu. tapi, Gubernurnya sudah ngotot."

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP