Pertarungan panas duo Budi rebut kursi Kapolri
Merdeka.com - Suksesi kepemimpinan di institusi Kepolisian Republik Indonesia kerap disebut-sebut perang bintang. Bukan tanpa alasan mengingat calon orang nomor satu di institusi ini minimal harus berpangkat jenderal bintang tiga.
Institusi Polri memiliki sembilan jenderal bintang tiga yang saat ini tengah cemas menanti namanya masuk ke meja Presiden Joko Widodo sebagai calon Kapolri yang kemudian bakal diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Nama-nama tenar menghiasi bursa calon Kapolri. Mulai dari Wakapolri Komjen Budi Gunawan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Tito Karnavian, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso, Sekretaris Lemhanas Komjen Suhardi Alius, Irwasum Polri Komjen Dwi Prayitno, Kepala Kabarharkam Komjen Putut Bayu, Kabaintelkam Komjen Pol Djoko Mukti hingga Kabareskrim yang baru dilantik Irjen Ari Dono.

Anggota Kompolnas Yotje Mende memastikan calon Kapolri sudah dapat diumumkan pada bulan Juni atau sesuai dengan permintaan dari Menko Polhukam yang juga Ketua Kompolnas Luhut Pandjaitan. "Ya beliau ancar-ancar, bulan Juni itu sudah ada nama," kata Yotje.
Semua jenderal bintang tiga berpeluang mengisi kursi Kapolri yang bakal ditinggalkan Jenderal Badrodin Haiti yang pensiun Juni ini. "Pasti lah bintang 3 semua," kata Menko Polhukam Luhut Pandjaitan di kantornya, Jakarta, Jumat (3/6).
Namun Luhut enggan menyebut nama yang bakal diserahkan ke meja presiden. "Nama-namanya tidak boleh dong saya ngomong, saya belum lapor presiden, Presiden is my boss. Jadi mesti lapor ke bos saya dulu baru ke kalian," jelasnya.
Di antara nama-nama tersebut, dua nama jenderal berpeluang besar menerima tongkat estafet kepemimpinan di tubuh Polri. Beredar kabar menyebutkan, Presiden Joko Widodo dihadapkan pada pilihan duo Budi yakni Wakapolri Komjen Budi Gunawan dan Kepala BNN Komjen Budi Waseso.
Pengamat Politik Boni Hargens melihat, dari sejumlah nama calon Kapolri yang akan menjadi pengganti Jenderal Badrodin Haiti, nama Komjen Budi Waseso dianggap jadi salah satu yang layak dipertimbangkan Presiden Jokowi. Alasannya, Kepala BNN ini dipandang sebagai figur atau sosok pembaharu di korps Bhayangkara.
"Budi Waseso ini jenderal polisi yang menurut saya menjadi pembaharu persepsi publik tentang Polri," ujar Boni dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (3/6).
Boni berpendapat, Budi Waseso mencitrakan polisi bersih dengan kinerja yang kompeten. Apalagi selama menjadi Kabareskrim dan Kepala BNN, Budi Waseso fokus dalam menjalankan tugas.
"Budi Waseso betul-betul jenderal yang tidak kaya raya lho, dan dia memang betul-betul kerja. Saya rasa dia juga tak akan memusingkan hal ini (bursa calon Kapolri) karena dia sedang sibuk dengan BNN-nya," ujar Boni.

Saat diminta pendapatnya perihal calon Kapolri, Komjen Budi Waseso enggan berspekulasi mengenai. Dia menjawab diplomatis, keputusan berada di tangan Presiden Joko Widodo.
"Kita serahkan ke Pak Kapolri, semua petinggi Polri diajukan ke Presiden. Presiden menentukan, semua layak," ucap Budi Waseso di BNN, Kamis (17/3).
Namun mantan Kabareskrim ini selalu siap jika memang mendapat amanat memimpin Korps Bhayangkara. "Kalau prajurit abdi negara, di mana pun ditugaskan negara. Kita harus siap," tuturnya.
Respons positif terhadap Budi Waseso juga datang dari anggota Komisi III DPR Nasir Djamil, Menurutnya, ada sejumlah nama petinggi Polri yang dinilai pantas menggantikan Jenderal Badrodin. Tidak terkecuali mantan Kabareskrim yang saat ini menjabat sebagai Kepala BNN, Budi Waseso. Di mata Nasir, sosok Budi Waseso calon yang memenuhi syarat dan berintegritas.
"Bisa saja dia (Budi Waseso), bintang tiga, semua sudah cukup syaratnya," kata Nasir. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya