Pernah diblokir, hidayatullah.com masih tak terima dianggap radikal
Merdeka.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika sempat melakukan pemblokiran pada 22 situs yang dianggap menyajikan konten Islam radikal atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Teroris. Meskipun pada akhirnya ada beberapa situs yang dibuka blokir.
Salah satu situs yang diblokir saat itu adalah, hidayatullah.com. Kepada Dewan Pers, Pemimpin Redaksi (Pemred) Hidayatullah.com, Mahladi Murni, membantah bahwa situsnya telah menyebarkan ajaran kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
"Mengapa situs saya sampai diblokir? Alasan yang kami dapatkan, kami diblokir karena kami radikal. Radikal itu sendiri tidak ada dalam Islam. Dalam Islam tidak ada istilah radikal, yang ada hanya qulub dan ini artinya melebih-lebihkan dalam agama. Kami menolak disebut radikal," kata Mahladi, di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (4/5).
Mahladi menilai sikap pemerintah melakukan pemblokiran sebagai bentuk ketidakadilan. "Jika memang berita kami dirasa radikal, seharusnya berita itu saja yang dicabut. BNPT mengatakan hanya ada dua berita kami yang dianggap berbahaya. Kalau diminta, detik itu juga akan saya hapus. Mengapa sampai melakukan pemblokiran sepihak," tuturnya.
Meski pemblokiran pada situsnya telah dihentikan dan dibuka kembali, Mahladi mengaku sudah kehilangan pengunjungnya. Dia menduga hal itu terjadi karena pemblokiran itu menimbulkan stigma negatif. Atas hal itu pun, Mahladi berpendapat jika pihaknya tidak setuju pada kebebasan pers yang kebablasan.
"Kami terus terang, kami tidak setuju dengan kebebasan yang kebablasan. Karena kami khawatir kebebasan yang kebablasan itu akan melanggar fitrah kita sebagai manusia. Harus ada batasan-batasan. Karena kalau kebebasan itu kebablasan akan menimbulkan korban seperti kami," tutup Mahladi.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya