Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Perlengkapan terbatas, pelayanan kesehatan jemaah haji tak maksimal

Perlengkapan terbatas, pelayanan kesehatan jemaah haji tak maksimal Jamaah haji di Masjidil Haram. ©REUTERS/Muhammad Hamed

Merdeka.com - Ketua Komisi VIII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay mengatakan pelayanan kesehatan bagi Jemaah haji Indonesia belum maksimal. Kendala utama peralatan medis dan mobil ambulans yang sangat terbatas.

Hal itu diketahui dari penjelasan langsung dari beberapa petugas BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia) di Makkah ketika tim pengawas DPR melakukan kunjungan dan pemeriksaan.

"Meskipun ada klinik-klinik satelit yang dibuka di masing-masing sektor, namun keterbatasan peralatan medis dan tenaga para medis menyebabkan para jemaah belum maksimal ditangani," kata Saleh melalui pesan singkat kepada merdeka.com, Rabu (23/9).

Pelayanan medis ini menjadi sangat krusial karena jumlah jemaah lansia dan risti (resiko tinggi) dari tahun ke tahun semakin naik. Untuk tahun ini saja, jumlah jemaah lansia mencapai 64,5 persen. Berarti, jemaah resiko tinggi jauh lebih banyak dari jemaah yang dikatakan fit untuk menjalani seluruh prosesi ibadah haji.

Menurut wakil ketua tim pengawas jemaah haji ini, banyak pasien yang memerlukan obat-obatan untuk penyakit tertentu. Setelah dicek ketersediaannya di klinik-klinik satelit, obat-obatan itu tidak ada. jemaah terpaksa berusaha untuk mendapatkannya di apotek-apotek yang ada di luar.

"Kesulitannya, tidak semua jemaah bisa menjelaskan penyakitnya kepada apoteker. Karena itu, tidak jarang mereka juga tidak bisa membeli obat. Selain itu, tidak semua obat bebas diperjualbelikan di apotek-apotek Saudi,"ujarnya.

Menurut keterangan petugas BPHI, mereka juga terkendala dengan mobil ambulans. BPHI yang operasionalnya di bawah kementerian kesehatan hanya memiliki 9 ambulans. Sementara, ada 3 ambulans yang tidak bisa beroperasi. Untuk menutupi kecukupan ambulans, BPHI terpaksa meminjam mobil-mobil yang dimiliki oleh kementerian agama. Sayangnya, mobil-mobil yang dimiliki kementerian agama banyak yang keluaran lama, sehingga terkadang ada yang bermasalah di tengah jalan.

"Kalau ada ambulans yang membawa pasien lalu mogok, tentu itu sangat riskan. Ambulans itu kan diperlukan untuk membawa pasien segera ke BPHI atau ke rumah sakit. Kalau mogok, ya itu akan menjadi masalah besar," jelas Saleh.

Selain itu, bis-bis Safari Wukuf dinilai juga masih kurang. Dengan jumlah jemaah resiko tinggi seperti sekarang ini, bis-bis safari wukuf itu menjadi penting. Dengan adanya bis-bis itu, jemaah yang sedang sakit tetap dimungkinkan untuk dibawa ke padang Arafah untuk melakukan wukuf meskipun tetap berada di dalam bis.

"PPIH hanya menyediakan 10 bis untuk safari wukuf. Kapasitasnya hanya bisa mengangkut 125 jemaah. Bis safari wukuf itu didesain bagi pasien yang masih memungkinkan untuk dibawa ke Arafah. Para pasien tetap di dalam bis. Bis telah dimodifikasi sedemikian rupa bagi pasien. Mereka bisa berbaring ataupun duduk. Sementara pengobatan dan alat-alat medis tetap melekat di tubuh mereka," imbuh kader partai PAN ini.

Tidak semua pasien mau dibadal hajikan. Ada yang tetap ngotot untuk ikut wukuf. Dengan kondisi jemaah kita yang jumlah ristinya tinggi, keberadaan bis safari wukuf ini menjadi sangat penting.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP