Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Perjuangan nenek Pariyah jadi penyortir biji kopi buat makan

Perjuangan nenek Pariyah jadi penyortir biji kopi buat makan Nenek Pariyah. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Usia Pariyah sudah tak muda lagi. Tetapi nenek berusia 58 tahun ini tangannya terlihat masih cekatan saat bekerja sebagai penyortir kopi di PT. Perkebunan Nusantara IX. Lokasi perusahaan tersebut di Jalan Raya Semarang-Magelang, Gemawang, Kecamatan Jambu, Semarang Jawa Tengah.

Jika musim panen kopi tiba, Pariyah dan warga Jambu lainnya bekerja di PTPN. Rutinitas ini dia lakukan dari pukul 06.00-14.00 WIB. Satu per satu biji kopi dipilah dengan teliti oleh nenek Pariyah.

Pariyah mengaku bekerja sebagai penyortir biji kopi ditekuni sejak tahun 1981. "Upahnya untuk makan keluarga di rumah. Lumayan untuk menambah kebutuhan hidup," kata Pariyah kepada tim dari merdeka.com dan Portrait of Indonesia, Rabu (21/1).

Penghasilan Pariyah dalam sehari Rp 20 ribu. Sekilo biji kopi hasil sortirannya, Pariyah mendapatkan upah Rp 1000. Dalam waktu 8 jam, Pariyah mampu menyortir 20 kilogram biji kopi.

Jika dibandingkan dengan pekerja muda lainnya, Pariyah kalah jauh. Rata-rata pekerja muda bisa menyortir hingga 60 kilogram biji kopi.

Pariyah terpaksa masih banting tulang karena suaminya sudah tak bekerja lagi. Suaminya tak bisa berladang karena sedang sakit di rumah. "Uang ini lumayan buat makan. Ini sudah cukup," ujarnya.

Biasanya, Pariyah bekerja sebagai penyortir kopi pada bulan Juni hingga Desember. Terkadang sampai Januari, tergantung masa panen dan jumlah kopi yang ada di pabrik.

Meski sudah tua, Pariyah tak mau mengeluh. Dia lebih memilih bekerja selagi masih mampu dan sehat.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP