Perjokian UGM dilakukan sindikat besar & profesional
Merdeka.com - Kasus perjokian di Universitas Gadjah Mada (UGM) saat pelaksanaan ujian masuk (UM) di Fakultas Kedokteran Internasional diduga dilakukan oleh sindikat atau jaringan perjokian yang berskala besar dan dilakukan oleh orang-orang profesional.
Sebab pihak panitia pelaksanaan seleksi sempat mengikuti instruksi yang ada pada barang bukti HP tersebut dan jelas ada seseorang yang mengarahkan dan memberi komando.
"Kami menduga ada sindikat besar yang terlibat dalam perjokian ini. Ada komando dan aba-aba kepada peserta. Jika mereka sudah siap agar berdehem dan akan diberi jawaban," jelas Direktur Administrasi Akademik (DAA) UGM, Budi Prasetyo Widyobroto saat dikonfirmasi merdeka.com Sabtu (14/7).
Panitia seleksi dari proses pengecekan dan penggeledahan sebanyak 400 peserta itu menemukan ada dua modus perjokian. Modus pertama perjokian yang dilakukan melalui via SMS dan kedua melalui telepon yang di koneksikan ke alat receiver yang dihubungkan dengan kabel antar peserta.
Saat dikonfirmasi terkait keterlibatan orang dalam, Budi Prsateyo menyatakan belum mengetahui pasti apakah sindikat ini melibatkan orang dalam UGM. Namun jika dalam proses penyelidikan polisi terbukti mengikut sertakan mahasiswa UGM, maka akan diberikan sanksi secara akademik. Jika pelanggarannya dilakukan oleh peserta, maka dipastikan akan gugur dalam seleksi.
"Kita akan terus berusaha untuk terus dalami termasuk apakah ada pola-pola misal yang mendaftarkan orang-orang tertentu. Kita dari sisi akademik saja dan proses hukum akan kita serahkan pada polisi. Yang jelas ujian tidak akan diulang dan mereka yang tidak terlibat akan tetap diizinkan mengikuti ujian selanjutnya," tegas Budi.
Keberhasilan pengungkapan kasus perjokian ini berawal dari kecurigaan. Dan kejelian saat sesi pertama ujian. Sesuai dengan prosedur pelaksanaan ujian, panitia melakukan penggeledahan dan ditemukan handphone yang telah dirakit dengan kabel.
"Saat diminta semua alat komunikasi diletakkan di depan ada gerak-gerik seseorang yang mencurigakan. Lalu kita geledah ternyata kita temukan alat komunikasi yang sudah dirangkai dengan kabel-kabel dan sebagainya yang jelas bukan hanya HP biasa," jelasnya.
Penggeledahan kemudian dilanjutkan ke seluruh peserta yang tersebar di tujuh ruangan seleksi. Akhirnya, panitia kembali menemukan barang bukti serupa di semua ruangan mencapai 40 buah. Sampai total 400 peserta ujian digeledah, akhirnya ditemukan 52 handphone rakitan yang saling terhubung.
"Semua kita sita termasuk kartu pendaftaran dan barang bukti. Namun yang bersangkutan masih diizinkan ujian. Setelah itu, 52 peserta kita serahkan ke Polres Sleman untuk ditindak secara hukum. Sayangnya ada empat orang yang berhasil kabur," tuturnya.
Ke-52 orang itu akhirnya dari kampus UGM Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta digelandang ke Mapolres Sleman. Sampai saat ini, petugas kepolisian Polres Sleman sedang melakukan pemeriksaan secara intensif dan mendalam terhadap 43 orang yang diduga kuat terlibat kasus perjokian dalam proses seleksi ujian masuk Fakultas Kedokteran Internasional UGM Yogyakarta itu.
Bahkan, polisi sudah menemukan salah satu orang berinisial IS dari Surabaya yang terindikasi kuat terlibat dan mengaku jika peserta lulus seleksi ujian akan dimintai biaya antara Rp 5 juta sampai Rp 10 Juta perorang. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya